Berita / Bisnis /
Klaim ‘Palm Oil Free’ Bisa Hancurkan Ketahanan Minyak Nabati India, IFBA Ingatkan Bahaya
Jakarta, elaeis.co – Tren pelabelan No Palm Oil atau Palm Oil Free pada produk pangan di India kini menuai sorotan tajam. Indian Food and Beverage Association (IFBA) memperingatkan, klaim tersebut berpotensi menyesatkan konsumen dan justru mengancam ketahanan minyak nabati nasional.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Selasa (30/12), IFBA menyebut maraknya label anti-sawit lebih mengedepankan strategi pemasaran ketimbang informasi gizi berbasis sains.
“Minyak sawit memiliki peran yang diakui dalam pola makan sehat dan seimbang. Namun, label seperti ‘No Palm Oil’ justru mengarahkan konsumen pada persepsi keliru,” kata Ketua IFBA, Deepak Jolly.
Fakta menunjukkan minyak sawit sudah digunakan di India sejak abad ke-19 dan tetap menjadi salah satu minyak nabati utama karena harga terjangkau, daya simpan lama, serta kestabilan nutrisi.
Data industri mencatat, India mengonsumsi sekitar 26 juta ton minyak nabati per tahun, dengan hampir 9 juta ton berasal dari sawit. Angka ini menegaskan posisi strategis sawit dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati domestik.
Shilpa Agrawal, Director of Scientific and Regulatory Affairs IFBA, menegaskan, pedoman gizi resmi Dietary Guidelines for Indians 2024 yang diterbitkan ICMR–National Institute of Nutrition, mengakui kandungan tocotrienol dalam minyak sawit bermanfaat menurunkan kolesterol dan mendukung kesehatan jantung.
“Ini membuktikan sawit bukan musuh kesehatan, tapi sering disudutkan oleh narasi negatif,” kata Agrawal.
IFBA menekankan, dampak pelabelan menyesatkan tidak hanya dirasakan konsumen, tetapi juga produsen, petani, dan pelaku industri pangan. Kampanye anti-sawit yang tidak diimbangi edukasi nutrisi justru berisiko merusak ekosistem pangan.
Kritik IFBA juga terkait dengan kebijakan nasional India. Sejak 2021, pemerintah meluncurkan National Mission on Edible Oils–Oil Palm (NMEO-OP) dengan anggaran 11.040 crore, bertujuan memperluas perkebunan sawit domestik dan mengurangi ketergantungan impor minyak nabati.
“Label ‘Palm Oil Free’ yang viral di pasaran bisa bertentangan dengan arah kebijakan ini jika tidak disertai edukasi yang tepat,” ujar Jolly.
Selain itu, IFBA menekankan pentingnya rotasi konsumsi berbagai minyak nabati, termasuk sawit, untuk menjaga keseimbangan asam lemak dalam diet masyarakat. Kampanye yang menekankan 'tanpa sawit' tanpa edukasi ilmiah justru menimbulkan persepsi keliru, yang bisa berdampak panjang pada ketahanan minyak nabati nasional.
“Label ‘Palm Oil Free’ bukan pengganti nasihat gizi yang seimbang. Konsumen perlu waspada terhadap klaim berlebihan yang tidak berpijak pada ilmu nutrisi dan fakta ilmiah," tegas IFBA.
Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran serius bagi industri pangan India. Jika tren ini terus berkembang, permintaan domestik terhadap sawit bisa merosot, harga pasar terguncang, dan upaya pemerintah meningkatkan produksi lokal pun terancam gagal.
Dengan kata lain, klaim 'Palm Oil Free' yang saat ini tampak sebagai strategi pemasaran bisa berakhir menjadi bom waktu bagi ketahanan pangan India. IFBA menekankan bahwa edukasi konsumen berbasis bukti dan transparansi informasi gizi adalah kunci untuk mencegah dampak negatif yang lebih luas.







Komentar Via Facebook :