https://www.elaeis.co

CLOSE ADS
CLOSE ADS
Berita / Nasional /

Ketum Gulat: Eropa Lupa, RI Punya Biodiesel

Ketum Gulat: Eropa Lupa, RI Punya Biodiesel

Ketua Umum APKASINDO Gulat Manurung saat mengikuti Summit Indonesia 2021 terkait Energi Baru Terbarukan. (Ist)


Jakarta, elaeis.co - Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) merespon regulasi baru yang dikeluarkan oleh Uni Eropa. Di mana 27 negara yang tergabung di Uni Eropa sepakat untuk tidak mengimpor produk yang dianggap menyebabkan deforestasi, salah satunya turunan kelapa sawit. 

"Kalau kita lihat terhadap gertakan Uni Eropa itu, sebenarnya mereka salah. Mereka lupa bahwa Indonesia, selain sebagai produsen CPO, juga merupakan konsumen terbesar di dunia," kata Ketua Umum APKASINDO Gulat Medali Emas Manurung saat menjadi pembicara di IDX Channel, kemarin. 

Gulat mengatakan bahwa Undang-undang yang telah ditandatangani oleh 27 negara Uni Eropa pada 6 Desember 2022 lalu itu, tidak akan berpengaruh pada harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. 

"Tidak ada pengaruh. Indonesia jauh lebih siap. Sekitar 1 bulan yang lalu, pemerintah sudah memperketat ekspor. Dari 1:8 turun ke 1:6, itu sudah menjadi pertanda. Kedua kita sudah mengantisipasinya dengan meningkatkan serapan domestik, yakni dengan B35 di Februari nanti," ujarnya.  

Jika dihitung, kata Gulat, volume Crude Palm Oil atau CPO yang akan diserap di dalam negeri dengan adanya B35, justru lebih tinggi ketimbang volume ekspor ke Uni Eropa. 

"Ekspor kita ke Eropa tercatat hanya 4 sampai 5 juta ton per tahun, dengan konsumsinya 27 negara. Sementara kalau kita hijrah dari B30 ke B35, itu paling tidak sudah menyerap 5 juta ton, atau totalnya 15 juta ton CPO. Kalau kita lihat perbandingan antara produksi dan serapan dalam negeri, itu sudah selesai," jelasnya. 

Gulat justru menilai bahwa apa yang dilakukan oleh Uni Eropa sia-sia. Karena Indonesia sudah jauh lebih siap. Dan bahkan dengan berbagai regulasi yang telah diterapkan Indonesia, akan mendongkrak harga TBS di tingkat petani. 

"Justru dengan perketatan aturan dari Uni Eropa, membuat harga CPO dunia akan naik. Dengan berbagai regulasi yang kita terapkan, itu akan membuat ketersediaan CPO dunia akan menurun, dengan demikian harga TBS akan terdongkrak," ujarnya. 

"Ini akan menjadi titik nol perbaikan sawit Indonesia. Ketika adanya aturan main yang menurut kami, itu merugikan mereka," pungkasnya.

Komentar Via Facebook :