Berita / Bisnis /
Jelang Tutup Tahun 2025, Harga CPO Rebound!
Jakarta, elaeis.co – Harga minyak sawit mentah (CPO) kembali rebound jelang penutupan tahun 2025, setelah sempat anjlok ke level 4.030 ringgit Malaysia pada perdagangan sebelumnya.
Pergerakan ini dipicu aksi beli murah (bargain hunting) sekaligus sinyal positif dari permintaan ekspor, termasuk dari India, importir terbesar minyak sawit dunia.
Menurut data Bursa Malaysia Derivatives, kontrak berjangka CPO naik 0,54 persen ke 4.071 ringgit Malaysia pada pukul 15.00 WIB, Selasa (30/12).
Sentimen ini diperkuat oleh penguatan harga minyak nabati global di bursa Dalian dan Chicago, yang menimbulkan optimisme di pasar minyak biji-bijian secara keseluruhan.
Direktur Pelindung Bestari, Paramalingam Supramaniam, mengungkapkan rebound CPO juga dipicu prakiraan produksi Desember lebih rendah akibat hujan lebat yang meluas di Malaysia Timur, khususnya Sarawak.
Departemen Meteorologi Malaysia memperingatkan lonjakan monsun pada 1-5 Januari yang berpotensi membawa hujan deras, angin kencang, dan gelombang tinggi di Laut China Selatan.
“Kami juga melihat adanya aktivitas penutupan posisi jual (short covering) menjelang libur akhir tahun,” jelas Supramaniam, dikutip Reuters.
Meski terdapat tekanan dari pelemahan permintaan global, penguatan ringgit, dan panen kedelai di Amerika Selatan, data kargo menunjukkan pengapalan minyak sawit periode 1-25 Desember naik 1,6–3 persen dibandingkan November.
India mencatat peningkatan pembelian 5 persen pada November seiring harga yang lebih menarik, memperkuat minat beli di pasar global.
Selain itu, isu tarif dengan Amerika Serikat disebut telah menemukan titik terang, dengan kesepakatan yang diperkirakan tercapai akhir Januari 2026, memberikan potensi pengecualian tarif untuk sejumlah produk CPO Indonesia.
Meski rebound jelang akhir tahun, secara keseluruhan harga CPO menutup 2025 melemah sekitar 8,5 persen, berbalik arah dari kinerja kuat tahun sebelumnya. Pasokan melimpah dan kekhawatiran atas permintaan global yang melunak menjadi faktor utama pelemahan.
Namun dengan dukungan aksi beli murah, stabilisasi ekspor, dan sinyal positif dari India serta kemungkinan pengecualian tarif AS, analis menilai harga CPO memiliki peluang kembali menguat pada awal 2026, membuka optimisme bagi pelaku industri sawit di Indonesia.
“Pasar akan tetap aktif pada 31 Desember 2025, dan rebound ini menjadi momentum positif untuk menutup tahun sekaligus menyongsong 2026,” tambah Supramaniam.







Komentar Via Facebook :