Siku Kata 

'iPad Allah' ke Bumi

'iPad Allah' ke Bumi
penampakan bumi di luar angkasa. foto: wallpaperBetter

Mistisisme, misteri langit, fenomena supra-rasional, peristiwa supra-natural selalu disambut lewat cara mengosongkan diri, dalam diam. Diam itu sendiri berpembawaan ‘menahan’; membisu. 

Nabi Zakaria kala meminjam sejenak ‘ruang hadirat langit’ (altar) Siti Maryam (Bunda Maria), dia harus menjalani ‘tapa diam’. Tak boleh berkata-kata dan bersuara beberapa hari. Sebuah dialog dalam bingkai kejelitaan samawi iPad Allah (Lauwh al Mahfuz).

Dan bayi yang lahir itu pun diberi nama Yahya. Setelah Yahya (Yohanes) lahir ke muka bumi, barulah Zakaria bersuara. Zakaria “diam berjenak-jenak”; puasa suara (fase liminal@ ‘pingsan langit’). 

Di awal-awal pematangan spiritual, sifat Perjanjian itu berpembawaan “meluncur” dari atas (Langit, The Real, atau al Haq). Sesuatu yang meluncur dari ketinggian disapa dengan diksi “turun”. 

Doa Zakaria dikabul. Sebelum dia “turun”, dia harus dipanjat; memanjat doa. Dirayu dalam candra manusia: bahasa manusia yang polos dan lugu, taksub dan muram.  Diksi Melayu menautkan peristiwa itu sebagai proses pemanjatan “pohon” (memohon doa; ku panjat doa). 

Ada entitas yang serba tinggi, bergayut pada dahan dan reranting nan tinggi. Maha sayup. Dan harus dirayu dalam isak merendah dan serba merebah...

Demikianlah al-Quran; entitas kalam yang ‘ditarik’ atau ‘dicabut’ sebagai satu anasir dari ketinggian samudera maha luas iPad Tuhan (Lauw al Mahfuz). Di sini Tuhan memposisikan Dia Sang Maha Pengujar (al Mutakallim)

Berujar dari Ketinggian dalam persambungan mediator Jibril ke sosok seorang perawan. Perawan adalah satu syarat mutlak (conditio sine qua non). Tak bisa ditawar-tawar.

Kalam Tuhan sering ditafsir dalam makna analogis (makna zahir). Begitulah ayat-ayat yang terhimpun di dalam seluruh Kitab Suci yang Empat (Taurat, Zabur, Injil dan al-Quran). 

Baca juga: Singa, Ular Berpuasa

Sejatinya, di balik tafsir analogis (zahir), ayat-ayat Tuhan ini memikul makna ‘anagogis’ (makna batin). Kembara mini dalam selejang makna anagogis (batin) yang terhimpun dalam kisah dan penceritaan langit tentang turunnya al-Quran, memanfaatkan satu momen: Perintah atau Command berpuasa di bulan Ramadhan. 

Sambutlah dia (al-Quran) dengan cara berpuasa. Ramadhan, sebuah pilihan. Karena di dalamnya tersedia peristiwa ‘liminal’ (seakan mati, memati diri, pingsan langit): puasa. 

Fase liminal, sebuah jalan yang paling aman untuk menurunkan “sesuatu” dari Yang Maha Tinggi. Sesuatu yang mengejut, menggerun, mendebar, serba tak terpemanai, memerlukan sebuah “ruang kosong”, bilik khas, yang dihajatkan untuk menampungnya. 

Dan yang duduk dalam ruang kosong itu dipersyaratkan sosok perawan yang tengah menjalani fase-fase liminal (pingsan langit, lorong esoteris, jalan zuhud, i’tikaf atau semadi, bersendirian di dalam diam). 

Demi kelahiran peradaban baru (khalq jadid), Nabi Nuh juga menjalani fase liminal (banjir). Ibrahim juga Musa, pun (nyala api). Momennya; Ramadhan. Liminal menerbit “keperawanan”. 

Siti Maryam, gadis suci melahirkan bayi lelaki. Status langit dari bayi lelaki itu (Jesu/Nabi Isa) adalah Wahyu (Revelations) itu sendiri. Siti Maryam dan keperawanannya menjalani fase-fase liminal di dalam bilik depan altar. 

Nabi Mursalin menerima cicilan Wahyu paling awal pada bulan Ramadhan dalam status liminal sekaligus perawan dari segi teks dan kepengarangan (dalam gua; altar langit). 

Status ummi (tak pandai baca tulis) sebuah syarat keperawanan dalam konteks penerimaan pesan (verba). Verba yang berasal dari “iPad Allah” itu turun dalam derajat dan tingkatan eskalatif.

Derajat pertama, bahasa Tuhan (tersedia dalam Lauwh al Mahfuz/ “iPad Allah”). Kemudian ditanam dalam bahasa Jibril (Malaikat). Secara eskalatif Jibril menanam kembali ke dalam “bahasa batinnya” Muhammad Suci. 

Lalu Muhammad mentransformasi ke dalam bahasa sehari-hari yang digunakan oleh manusia di kawasan jazirah Hijaz masa itu (konteks, Arab): Proses “bertani bahasa” (language farming) mengalami empat tingkatan dengan tetap menjaga garis sanad yang tersambung kepada buhul awal al Haq

Status al-Furqan (al-Quran) “Bacaan” sebagai Wahyu (Revelations) dilahirkan oleh sosok perawan pada bulan liminal (Ramadhan). Dua kata kunci: Perawan dan Liminal (conditio sine qua non; syarat mutlak). Sehingga, kajian kritis tasawuf tajalliat memperkatakan bahwa “Nabi Isa (Jesu) itu adalah al-Quran dalam wujud daging. Sedangkan al-Quran adalah Jesu (Isa) dalam wujud teks”. Kedua-duanya berstatus Wahyu. Dilahirkan oleh dua sosok perawan (Maryam dan Muhammad Suci).

Wahyu berpembawaan turun dari arasy ketinggian tak berpucuk (tiada berhingga). Cara beroperasinya peluncuran yang turun dari ketinggian itu memanfaatkan “proyek liminal” dan “proyek virginity” (keperawanan). 

Kedua-dua proyek ini (liminal and virginity) demi melahir dan menjayakan “Grand Narrative Project” (Proyek Narasi Agung) bernama “Proyek Pembacaan”. 

Setiap insan didorong dan didesak secara alegoris untuk membaca dan membaca (iqra) demi membangun kesadaran dan keinsyafan ke atas alam raya sebagai cara berada Tuhan. “Kemampuan engkau menghadap, di sana kau jumpai wajah Tuhan” (al-Quran).

Sebuah kisah, “Kala manusia menyapa hujan, sungai atau pun danau, air pun berkata; Aku bukanlah hujan, bukan sungai, bukan pula danau. Aku adalah lautan yang karena kebesaran dan kasih-Ku pada tetumbuhan, maka aku melimpah sampai ke pegunungan, daratan dan bahkan meresap ke perut bumi agar tumbuh pepohonan untuk kemaslahatan manusia”.

Nuzul al-Quran adalah sebuah “Proyek Narasi Agung” tentang bagaimana sepatutnya “cara membaca” dan “cara menghadap”...

Editor: Abdul Aziz