Berita / Nusantara /
Industri Sawit Jadi Penjaga Mimpi Anak-Anak Desa Terpencil
Peringatan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak 2025 di perkebunan sawit di Kabupaten Agam. foto: ist.
Jakarta, elaeis.co – Di tengah gencarnya kampanye negatif terhadap industri kelapa sawit, sebuah fakta menarik justru mencuat dari pelosok-pelosok nusantara. Bukan soal ekspor, bukan pula soal devisa. Melainkan tentang anak-anak desa terpencil yang diam-diam tengah digandeng menuju mimpi mereka, oleh industri yang kerap dipandang sebelah mata yaitu sawit.
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) melalui Ketua Bidang Pengembangan SDM, Sumarjono Saragih, menegaskan bahwa sawit punya peran nyata dalam membangun generasi emas. Tak sekadar menyumbang lebih dari Rp600 triliun devisa tahun ini, industri sawit juga turut membina manusia sejak dini di tempat-tempat yang sering luput dari sorotan pembangunan.
“Kadang kita terlalu sibuk melihat sisi gelap. Padahal, sawit punya potensi besar sebagai pendorong lahirnya generasi unggul,” ujar Sumarjono, yang juga inisiator Worker Initiatives for Sustainable Palm Oil (WISPO), kemarin.
Bukti lapangannya jelas terlihat. Klinik 24 jam berdiri di tengah kebun. Fasilitas pendidikan dari TK hingga SMA hadir, lengkap dengan akses gratis bagi anak-anak karyawan dan warga sekitar. Mereka tak hanya belajar baca tulis, tapi juga menari, menyanyi, dan membaca puisi, sebagaimana tampak dalam peringatan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak (HDMPA) 2025 di perkebunan Wilmar FT AMP di Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Mengangkat tema "Ceria Bersama Anak Kebun Sawit", acara tersebut jadi simbol kuat bahwa industri sawit tak sekadar bicara profit, tapi juga soal perlindungan dan pemberdayaan. GAPKI pun diganjar PAACLA Award 2025 atas komitmen membangun lingkungan ramah anak.
"Anak-anak ini bukan pekerja, mereka adalah pemilik masa depan yang tumbuh dengan gizi cukup, pendidikan layak, dan nilai hidup yang kuat," tutur Sumarjono.
Di tengah keterbatasan akses pemerintah ke wilayah-wilayah terisolasi, industri sawit menjadi jembatan harapan. Dari balik rindang pohon sawit, generasi 2045 perlahan disiapkan, bukan hanya untuk hidup, tapi untuk bermimpi besar.







Komentar Via Facebook :