Berita / Bisnis /
ICDX Mengaku Gagal Gaet Mayoritas Produsen Sawit Masuk Bursa, Kenapa Bisa Begini?
Jakarta, elaeis.co – Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) mengakui kegagalannya dalam menarik mayoritas produsen minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) lokal untuk bergabung di bursa berjangka.
Meski menguasai sebagian besar pasar nasional, ICDX baru berhasil menggaet 58 perusahaan, jauh dari target untuk membentuk referensi harga CPO nasional yang kredibel.
Direktur ICDX, Nursalam, mengaku pihaknya saat ini fokus mengoptimalkan 58 perusahaan yang telah terdaftar.
“Ini kita optimisasi dulu. Supaya nanti kalau 58 (perusahaan) ini bisa bergerak, yang lain akan datang dengan sendirinya,” katanya di kantor Kementerian Perdagangan, Jumat (2/1).
Namun, fakta ini menimbulkan pertanyaan besar: jika Indonesia adalah produsen CPO terbesar dunia, mengapa mayoritas produsen enggan masuk ICDX? Nursalam mengungkapkan, sejauh ini tidak ada alasan fundamental yang membuat produsen menunda. Tapi realitasnya, jumlah pengusaha yang bergabung masih sangat terbatas.
Menurut Nursalam, puluhan produsen yang masuk ICDX menguasai sekitar 50–70 persen pangsa pasar CPO nasional. Artinya, sebagian besar produsen lain masih menahan diri.
“Para pengusaha bakal bergabung asalkan banyak produsen yang masuk di bursa. Tapi sampai saat ini, ini belum terjadi,” ujar Nursalam.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar, apakah ICDX gagal memberikan insentif yang cukup menarik? Atau ada kendala lain di lapangan yang membuat pengusaha sawit lebih nyaman di luar bursa domestik?
Data dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan menunjukkan, sepanjang Januari–November 2025, volume transaksi perdagangan berjangka komoditi (PBK) mencapai 14,56 juta lot.
Angka ini tumbuh 12 persen dibandingkan periode sama tahun 2024, dengan nilai notional kontrak berjangka CPO mencapai Rp 2,69 triliun untuk 30.341 lot.
Di sisi lain, Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti menegaskan bahwa CPO dan turunannya menjadi komoditas ekspor nonmigas terbesar pada 2025. Total nilai ekspor lemak dan minyak hewan nabati, termasuk CPO, tercatat US$ 28,37 miliar dari Januari–Oktober 2025. Meski ekspor meroket, angka partisipasi produsen lokal di ICDX justru rendah.
“Seharusnya, tingginya volume ekspor bisa memacu pengusaha untuk masuk bursa dan mendapatkan harga acuan yang jelas. Nyatanya, ini belum tercapai,” kata Nursalam.
Meski demikian, Nursalam tetap optimistis. Ia menargetkan 50 persen volume ekspor CPO Indonesia pada 2026 dilakukan melalui bursa berjangka. Strategi ICDX antara lain, mendiskusikan kebutuhan produsen, menawarkan insentif, dan memperluas edukasi mengenai mekanisme perdagangan berjangka.
“Memang saat ini masih belum sesuai yang kita harapkan, tapi kita tidak menyerah,” tegas Nursalam.
Bappebti pun mencatat tren positif dalam volume transaksi. Namun, peningkatan jumlah transaksi tidak otomatis berarti lebih banyak produsen masuk ICDX. Sebagian besar transaksi masih dilakukan oleh perusahaan besar yang sudah bergabung, sementara pengusaha sawit skala menengah dan kecil tetap memilih jalur konvensional.
Jika tren ini terus berlanjut, risiko muncul dimana harga CPO nasional tetap sulit distandarisasi, peluang Indonesia membentuk harga acuan global akan tertunda, dan produsen lokal yang menunda bergabung berpotensi kehilangan keuntungan dari perdagangan berjangka yang lebih transparan.
ICDX harus bergerak cepat, menawarkan paket insentif konkret, dan membangun edukasi pasar yang lebih agresif agar produsen sawit tidak lagi menunggu pihak lain untuk masuk bursa. Karena, jika stagnasi terus terjadi, ambisi Indonesia memimpin harga CPO dunia bisa terus jadi wacana belaka.







Komentar Via Facebook :