Berita / Pasar /
Harga Sawit Rebound Tipis, Trader Waspadai Data MPOB dan Ringgit
Jakarta, elaeis.co – Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) mulai menunjukkan tanda-tanda bangkit di awal tahun.
Pada perdagangan Rabu, 7 Januari 2026, harga sawit di Bursa Malaysia tercatat menguat tipis setelah sempat tertekan dalam beberapa hari sebelumnya.
Meski kenaikannya belum besar, pergerakan ini memberi sinyal bahwa pasar mulai mencari pijakan baru.
Kontrak CPO pengiriman Maret 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik sekitar MYR 12 atau 0,30% ke level MYR 4.004 per ton pada jeda perdagangan siang. Kenaikan ini sekaligus mengakhiri tren koreksi yang terjadi sejak awal pekan, meski pelaku pasar masih menahan diri untuk tidak terlalu agresif.
Salah satu faktor utama yang mendorong rebound harga sawit adalah permintaan yang mulai membaik secara musiman.
Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek dan bulan Ramadan yang jatuh pada Februari, kebutuhan minyak nabati biasanya meningkat. Permintaan untuk keperluan rumah tangga, industri makanan, hingga sektor horeca perlahan kembali bergerak.
Selain faktor musiman, melemahnya nilai tukar Ringgit Malaysia turut memberi dukungan pada harga CPO.
Saat Ringgit melemah, harga sawit menjadi lebih kompetitif bagi pembeli luar negeri karena terasa lebih murah dalam mata uang dolar AS atau mata uang lainnya. Kondisi ini kerap mendorong minat beli dari negara importir utama seperti India dan China.
Dari sisi pasar global, harga sawit juga terbantu oleh pergerakan minyak nabati lain. Minyak kedelai di bursa Chicago dan Dalian terpantau bergerak stabil dengan kecenderungan menguat.
Karena sawit bersaing langsung dengan minyak kedelai dan minyak bunga matahari di pasar dunia, penguatan komoditas pesaing biasanya ikut mengangkat sentimen harga CPO.
Meski demikian, kenaikan harga sawit hari ini belum sepenuhnya aman. Tekanan dari pasar energi global masih membayangi.
Harga minyak mentah dunia dilaporkan turun tajam akibat ketegangan geopolitik, yang berdampak pada sentimen seluruh komoditas energi dan turunannya. Saat minyak mentah melemah, daya tarik minyak nabati sebagai bahan bakar alternatif ikut berkurang.
Di sisi lain, pasar juga terus mencermati kondisi pasokan. Stok minyak sawit Malaysia diperkirakan masih berada di level tinggi. Survei pasar menunjukkan persediaan pada akhir Desember 2025 kemungkinan mencapai titik tertinggi dalam hampir tujuh tahun.
Produksi yang masih kuat belum sepenuhnya diimbangi oleh ekspor, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan kelebihan pasokan.
Situasi ini membuat para trader dan pelaku industri bersikap lebih waspada. Banyak pihak memilih menunggu rilis data resmi dari Malaysia Palm Oil Board (MPOB) yang dijadwalkan pekan depan.
Data MPOB akan memberikan gambaran jelas tentang produksi, ekspor, dan stok sawit Malaysia, yang kerap menjadi acuan utama arah harga CPO global.
Di tengah ketidakpastian tersebut, pergerakan nilai tukar Ringgit juga menjadi perhatian serius.
Jika Ringgit kembali menguat, daya tarik harga CPO bagi pembeli asing bisa berkurang. Sebaliknya, jika mata uang Malaysia tetap lemah, harga sawit berpotensi mendapat tambahan dukungan.
Untuk sementara, pasar menilai harga sawit masih bergerak hati-hati dan cenderung sideways. Rebound tipis hari ini memberi harapan, namun arah selanjutnya sangat ditentukan oleh kombinasi data MPOB, pergerakan Ringgit, serta dinamika pasar global.
Bagi pelaku usaha dan trader, membaca sinyal-sinyal ini menjadi kunci dalam menyusun strategi di awal 2026.







Komentar Via Facebook :