https://www.elaeis.co

Berita / Siku Kata /

Efek Sawit, Gemoy... 

Efek Sawit, Gemoy... 

Anak-anak petani sawit yang sedang menjalani program beasiswa sawit. foto: ist


Sawit itu gemoy. Saking gemoy-nya, semakin hari, dunia semakin membutuhkan. Saking gemoy-nya, sebelah dunia sampai meriang. 

Di satu sisi, terus-terusan berusaha supaya si gemoy hengkang, tumbang! Tapi di sisi lain, justru membangun pabrik untuk mengolah si gemoy menjadi dagangan yang lebih mahal.  

Menengok kelakuan semacam itu, Pemerintah Indonesia tersulut gemoy. Lebih separuh sawit itu tak lagi langsung diekspor. Di dalam negeri jadi ragam olahan. 

Mulai dari fame, oleokimia, oleofood dan sederet turunan lain. Kalau pun ada yang diekspor, pajak dan pungutan ditinggikan. 

Pajak langsung masuk kocek pemerintah, pungutan disuruh dikelola oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Biar fame tadi bisa dibaur dengan minyak fosil menjadi biodiesel, duit hasil pungutan tadi pun dipakai bayar selisi harga minyak fosil. Sekarang bauran itu sudah di level B35. 

Selain telah menghemat devisa impor hingga lebih dari Rp160 triliun, emisi karbon pun berkurang hingga 11 juta ton. Ini belum termasuk devisa yang menggelontor ke kocek negara hingga Rp700 triliun!

Duit pungutan tadi, rupanya mengucur langsung juga kepada petani sawit. Sampai tahun lalu, sudah sekitar Rp9,1 triliun duit mengucur kepada 142.078 pekebun dalam program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Total luas lahan mereka mencapai 306.490 hektar.

Masih hingga di tahun yang sama, sudah 6.265 orang anak petani sawit dapat beasiswa kuliah di 14 perguruan tinggi. Sebanyak 3.025 di antaranya sudah lulus. 

Selain mereka, sudah ada pula 14.924 orang petani yang dilatih untuk meningkatkan SDMnya. Ini belum termasuk riset-riset yang dilakukan oleh para peneliti di sejumlah kampus yang dibiayai dari duit sawit.  
Begitulah efek gemoy nya sawit tadi terhadap Pemerintah Indonesia, hampir 10 tahun terakhir. Sesuatu yang belum pernah terjadi dan dirasakan oleh petani sawit pada era-era sebelumnya. 

Gemoy, kata yang diplesetkan dari Gemas ini, mulai viral setelah riuh pesta demokrasi pemilihan presiden mendekat. Prabowo Subianto, yang menjadi salah satu kontestan, menjadi sosok yang disematkan bahasa gaul itu. 

Bukan kebetulan, dia bersama pasangannya, Gibran Rakabuming Raka, getol pula bicara soal sawit ini, meski masih pada soal turunan. Hilirisasi. 

Apakah pasangan ini kelak bisa melanjutkan efek gemoy sawit ini? 

Kalau menengok kedekatannya dengan sosok yang memanfaatkan efek gemoy sawit selama hampir 10 tahun terakhir untuk petani, hampir bisa dipastikan bahwa efek ini akan terus berlanjut. 

Tinggal lagi seperti apa para petani dan bahkan pelaku sawit menyikapinya. Jika efek gemoy sawit ini masih dipentingkan oleh para petani, tentu, jawabannya sudah jelas. 

Bahwa efek gemoy ini akan terus berjalan sembari semua stakeholder melakukan penguatan-penguatan, penyempurnaan-penyempurnaan, seperti yang diinginkan oleh petani sawit pada khususnya. 

Namun jika efek gemoy tadi tidak diperlukan lagi, pilihanya tentu ada pada para pelaku sawit dan petani yang konon sudah berada di angka lebih dari 20 juta jiwa itu. Hehehehe... 


 

Yusmar Yusuf
Komentar Via Facebook :