https://www.elaeis.co

Berita / Lipsus /

Cerita Tipasa Dari Tanjabar

Cerita Tipasa Dari Tanjabar

Sabaruddin saat meraut bilah-bilah dari pelepah sawit yang akan dijadikan tirai. foto: ist


Tanjabar, elaeis.co - Lelaki 80 tahun ini nampak cekatan mengarit bilah-bilah tipis sepanjang lebih dari dua meter itu di teras rumahnya di kawasan RT 04, Desa Gemuruh, Kecamatan Tungkal Ulu, Kabupaten Tanjungjabung Barat (Tanjabar), Jambi, pekan lalu. Ada setumpuk yang sudah rampung, tersusun rapi di sampingnya ngendon

Di halaman rumah beton sederhana itu, ratusan bilah yang sama dihampar Sabaruddin untuk bercengkrama dengan terik matahari. Kalau panas matahari konsisten, dalam dua hari ke depan bilah-bilah itu sudah kering dan siap untuk dirajut menjadi tirai. Butuh waktu 3-4 hari merampungkan itu. Biar nampak lebih indah, Tipasa diwarnai. foto: dok. Poktan HTL

Tirai itu mereka namai Tirai pelepah sawit (Tipasa) lantaran bilah-bilah tadi memang bersumber dari pelepah sawit hasil tunasan --- pemotongan dari batang sawit setelah dianggap tak berguna lagi. Satu lembar Tipasa berukuran sedang menghabiskan 37-40 batang pelepah.

Sahabuddin tak sendirian membikin Tipasa itu, tapi hampir semua warga lanjut usia (lansia) yang ada di sana. Sebab kebetulan, yang pertama kali membikin kerajinan semacam itu di sana adalah lansia setempat. 

Kerajinan itulah yang diseriusi oleh Asosiasi Petani Berkah Mandah Lestari (APBML) sejak hampir setahun belakangan. Kelompok Tani Hijau Talang Lestari (Poktan HTL) didirikan untuk mengurusi. Tak hanya Tipasa, piring prasmanan berbahan pelepah kelapa sawit juga mereka bikin.

"Kami memulai usaha kerajinan ini setelah dapat tantangan dari salah seorang nara sumber (narsum) --- pegawai Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jambi --- pada workshop yang difasilitasi oleh Yayasan Setara November tahun lalu. Narsum itu bilang bahwa kami pekebun sawit jangan cuma mengandalkan hasil panen, tapi musti punya sumber pendapatan lain," cerita Ketua Poktan HTL, Suseno, kepada elaeis.co, kemarin.

Pulang dari workshop, lelaki 38 tahun ini langsung memutar otak. "Kerajinan apa lah yang mau dibikin ya," dia membatin.

Lagi mikir seperti itu, Suseno langsung teringat seorang lansia di desanya yang membikin kerajinan dari pelepah sawit. "Saya senang saat beliau menyanggupi untuk menularkan ilmunya ke lansia lain. Sejak saat itulah kerajinan ini bermula," kenang ayah dua anak ini. 

Lantaran masih pemula, Internal Controll System (ICS) di APBML ini belum mau bicara terlalu jauh soal harga, pemasaran, apalagi pendapatan. Alasannya, mereka belum percaya diri membikin harga dan masih harus cari referensi.

"Di pasaran sih harga satu tirai di kisaran 350ribu. Intinya kami baru melakukan pengenalan, belum menjual. Dari uji coba yang kami lakukan, biaya yang habis untuk menghasilkan satu unit Tipasa, sekitar Rp250 ribu dan untuk menghasilkan satu piring prasmanan, termodal Rp7 ribu," urai Suseno.      

Saat ini kata Suseno, Poktan HTL sedang fokus mendapatkan mesin yang bisa mempercepat pekerjaan dan menghasilkan produksi yang berkualitas maksimal meski berdasarkan pengalaman yang sudah memakai, Tipasa yang dibikin manual tadi, bisa bertahan 3-4 tahun.

Poktan HTL fokus ke situ kata Suseno lantaran mereka yakin usaha ini punya prospek masa depan yang bagus. "Bahan baku sangat melimpah. Sebab komoditi mayoritas di Tanjabar ini adalah kelapa sawit. Baik itu milik rakyat maupun korporasi. Kami sudah membangun workshop, kalau itu sudah rampung dan sudah bisa dipakai, barulah kami menerima orderan," terangnya.

Pelepah sawit yang menjadi bahan baku Tipasa dan piring prasmanan. foto: dok. Poktan HTL

Suseno dan para lansia tadi adalah 291 kepala keluarga petani kelapa sawit swadaya yang kemudian bersepakat mendirikan APBML tadi. Lantaran swadaya murni, umur tanaman kebun seluas 691,34 itu tidak seragam, tahun tanamnya macam-macam, mulai dari 2005 hingga 2011. 

Menariknya, dari November 2019 lalu kebun itu justru sudah mengantongi sertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). "Alhamdulillah, sejak kebun kami punya sertfikat RSPO, petani sudah tak abai lagi dengan keselamatan diri dan lingkungan," cerita Juliansyah, salah seorang anggota Poktan HTL. 

"Kami ini kan orang kampung, orang awam yang belum terbiasa pake helm dan bahkan sarung tangan. Selain ribet, risih pula. Tapi lama kelamaan, kami menjadi terbiasa dengan itu semua. Kalau helm tertinggal, kami sudah putar balik untuk mengambil helm itu. Kalau dulu, jangankan helm, topi tertinggal pun malas untuk putar balik mengambil lagi,” kata lelaki 30 tahun ini.



 

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :