Jenggi 

Budaya Fiksasi

Budaya Fiksasi
ilustrasi. foto: merisaheli.com

Untuk menjadi hakim agung bagi kehidupan kita harus segera berada di luar kotak. Naik ke ketinggian, bersila di atas awan, sampai keseluruhannya dapat terlihat. 

Kita mesti berada di kejauhan (zoom out) agar tak bersentuhan pada fragmen-fragmen atau polar-polar. Pada percikan-percikan kehidupan yang dangkal dan memihak.

Apa yang membuat kita berhenti di satu titik. Kehidupan ini sangat cair untuk dipeluk. Pythagoras berkata, jangan percaya kepada teman yang berbicara, sebaliknya Sun Tzu bilang, jangan percaya kepada teman yang diam. Einstein tidak akan menjadi Einstein jika tidak menabrak aturan Newton. 

Telah ada persimpangan tajam pada murid dan guru: Aristoteles berbelok dari Plato, Hegel dipatahkan oleh Marx, Gustav Jung pada Freud, bahkan Imam Syafi’i kepada Imam Malik. 

Mereka adalah orang-orang yang berani menarik taplak meja sampai hidangan yang disajikan di depan mata berhamburan seluruhnya, untuk menata ulang daftar menu kehidupan milik mereka sendiri.

Lalu siapa guru kehidupan kita? Apakah kita hanya penggugu masa lalu yang tak terverifikasi. Apakah kita hanya penunggu dan pengganti kain penutup batu nisan kebudayaan. Tanpa sempat berpikir leluhur kita mungkin pembangkang progresif seperti Einstein atau Aristoteles.

Baca juga: Melayu dalam New World Order

Jika leluhur kita berhenti menyerap dan bertukar tambah dalam budaya, maka kita tidak sampai seperti ini. Jika datuk dan nenek kita alergi dengan bahasa asing misalnya, maka kita tak akan menemukan kata meluat (dari  Inggris: loathe) atau kata duka (dari Budhisme: dukkha). 

Apa yang kemudian dapat kita lakukan dengan tubuh bahasa yang kerdil jika pendahulu kita bertabiat sama seperti kita: dogmatik dan xenofobia.

Terutama bahasa Inggris yang membuat para tradisionalis alergi tanpa alasan yang jelas, adalah yang paling banyak diserap ke dalam bahasa Melayu Indonesia, mulai dari regalia, minda, drama, dilema, beranda, permisi, bias, tabu, amuk, panik, rutin, unik, kalem, keras, fakta, idola, lampu, gelas, koma, sinis, dan seterus-seterusnya.

Jika raja dan bangsawan Melayu berhenti pada tanjak Sriwijaya atau sorban Arabia, mungkin kita tidak dapat melihat protret vintage Sultan Abdurrahman II dengan blazer menyerupai Seragam Pejabat  Sipil (A Civil Dignitary Uniform-1889-1908) dari Portugal. 

Atau pada potret Raja Ali Kelana yang amat identik dengan Tunik Hussars Rusia, seragam Jenderal 1906 (Imperial Russian Hussars Tunic – Generals Uniform 1906)

Lalu  Sultan Sulaiman Badrun Alamsyah yang mirip dengan busana-busana pria pada koleksi fotografer Prancis, Gustave Le Gray (1820-1884). 

Apa yang terjadi pada kita hari ini adalah, kita menganggap bahwa alat-alat dalam ruang gema kebudayaan baik yang terlihat dan tak terlihat itu semacam copyright atau hak cipta yang harus otentik dan fiksasi. 

Fiksasi adalah suatu keadaan berhenti tumbuh demi menjaga orisinalitasnya. Ini akan menjadi pekerjaan berat karena tidak ada orisinalitas yang mutlak, serta membutuhkan verifikasi yang valid. 

Sedangkan Melayu berada pada lokus episentrum, ketika semua alat budaya dan bahasa di atas planet bumi bertemu di satu titik, yang kemudian tertanam ke dalam bumi. Menjadi apa yang kita lihat pada hari ini sebagai sesuatu yang sakral dan berdiri sendiri dalam sebuah entitas. 

Sesungguhnya kita tidak punya hak untuk mengirim data ke masa depan bahwa Melayu hanya tentang tanjak, tepak sirih, dan baju Teluk Belanga dalam bahasa-bahasa kaku. 

Definsi tentang Melayu tidak sesempit itu. Kita juga harus mengirim sejarah kita sendiri, sejarah manusia modern hingga ke relung-relung virtual yang membutuhkan penyingkapan (apocalypse) bias-bias sejarah silam di samping tetap menyalin ulang melodrama feodalisme sebagai (hanya) sebuah fase.  



 

Editor: Abdul Aziz