Berita / Pojok /
Biodiversitas Tinggi: Antara Nilai Konservasi dan Nilai Budidaya
Ilustrasi Gemini AI

Oleh: Prof. Sudarsono Soedomo*)
ADA satu kebiasaan intelektual yang tampaknya makin menguat belakangan ini: setiap kali mendengar kata biodiversitas tinggi, refleks kita seragam—lindungi segera. Hampir seperti alarm kebakaran. Tidak peduli apakah yang terbakar itu dapur, lilin ulang tahun, atau hanya asap dari nasi goreng yang terlalu semangat.
Refleks ini tidak sepenuhnya salah. Tetapi, seperti semua refleks, ia berbahaya jika menggantikan berpikir.
Tulisan ini berangkat dari satu kegelisahan sederhana: apakah biodiversitas yang tinggi selalu berarti high conservation value? Ataukah, dalam kondisi tertentu, justru dapat bermakna high cultivation value? Pertanyaan ini terdengar nakal, bahkan subversif. Tetapi barangkali memang saatnya kita sedikit kurang sopan kepada asumsi kita sendiri.
Bentang alam tidak diam, ia menua
Bentang alam bukan foto. Ia lebih mirip film panjang, hanya saja kita sering datang terlambat dan mengira satu adegan sebagai keseluruhan cerita. Batuan mengalami pelapukan—mula-mula fisik, lalu kimia, dan akhirnya biologis. Dari batuan induk terbentuk bahan induk tanah, dan dari sana berkembang profil tanah.
Lapisan teratas yang berinteraksi langsung dengan matahari, hujan, angin, dan organisme menjadi horison A. Di bawahnya, bahan induk relatif utuh sebagai horison C. Tanah muda ditandai oleh profil sederhana AC. Seiring waktu, pencucian dan akumulasi membedakan lapisan tercuci (A) dan lapisan penimbunan (B). Lahirlah tanah berhorison ABC—yang sering kita sebut tanah matang.
Namun, cerita tidak berhenti di situ. Proses pencucian terus berlangsung. Mineral-mineral pembawa nutrien pelan-pelan habis. Tanah menua. Dalam diam.
Organisme datang belakangan, tapi ikut menua
Paralel dengan pembentukan tanah, organisme juga berevolusi. Pada substrat yang masih berupa batu atau tanah sangat muda, hanya organisme tingkat rendah yang bertahan. Ketika tanah berkembang dan nutrien relatif melimpah, peluang hidup terbuka bagi semakin banyak spesies. Biodiversitas meningkat.
Pada fase ini, biodiversitas tinggi adalah tanda kenyamanan. Sistem sedang ramah. Segalanya tumbuh.
Namun, seiring tanah menua dan nutrien semakin terbatas, biodiversitas yang tinggi memperoleh makna berbeda. Ia bukan lagi kemewahan, melainkan strategi bertahan. Nutrien yang dulu banyak tersedia di tanah kini “disimpan” dalam biomassa vegetasi agar tidak hilang oleh erosi dan pencucian. Sistem yang rapuh justru membutuhkan lebih banyak variasi untuk tetap berdiri.
Di titik ini, biodiversitas tidak lagi naik. Ia mencapai puncak—dan kemudian, pada tanah yang sangat tua, cenderung menurun kembali. Hutan kerangas adalah contoh yang baik: spesifik, tahan banting, tetapi biodiversitasnya lebih rendah dibandingkan hutan hujan tropis di sekitarnya.
Dengan kata lain: biodiversitas rendah → naik → maksimum → turun kembali. Kurva lonceng, bukan tangga tanpa ujung.
Permukaan bumi juga belajar merendah
Waktu juga bekerja pada bentuk lahan. Lereng curam tererosi lebih cepat. Bagian tinggi menjadi rendah, bagian miring menjadi landai. Bentang alam tua cenderung datar. Ironisnya, justru pada bentang alam yang tampak “tenang” inilah pencucian berjalan paling efektif, karena air lebih banyak meresap ke dalam tanah.
Sekali lagi, usia menyamar sebagai stabilitas.
Masalah skala: dari mana kita mengamati?
Ada satu hukum sederhana dalam ekologi: semakin luas radius pengamatan, semakin banyak spesies yang tercatat. Tetapi laju pertambahannya makin kecil. Pada suatu radius tertentu, penambahan area hampir tidak lagi menambah biodiversitas. Sebut saja ini radius kritis.
Implikasinya cukup mengganggu: mengonversi area di luar radius kritis tersebut tidak serta-merta menurunkan biodiversitas regional. Tetapi refleks kebijakan kita sering tidak mengenal radius. Semua tapak diperlakukan seolah-olah berdiri sendiri, terlepas dari konteks ruang dan waktu.
Biodiversitas tinggi: alarm atau undangan?
Di sinilah kegelisahan utama muncul. Kita terlalu sering memperlakukan biodiversitas tinggi sebagai alarm tunggal: awas, jangan disentuh. Padahal, dalam fase tertentu—khususnya ketika tanah relatif muda, nutrien tersedia, dan sistem masih kuat—biodiversitas tinggi justru menunjukkan daya dukung yang besar.
Dengan kata lain, biodiversitas tinggi tidak selalu berarti ekosistem rapuh. Ia dapat berarti ekosistem sedang sangat mampu menopang kehidupan.
Di titik ini, muncul gagasan yang mungkin membuat sebagian pembaca menegakkan punggung: biodiversitas tinggi tidak harus selalu berarti high conservation value. Dalam kondisi tertentu, ia justru dapat bermakna high cultivation value.
Ini bukan ajakan untuk membabat. Ini ajakan untuk membedakan.
Konservasi yang lupa waktu
Banyak pendekatan konservasi bersifat sinkronik: melihat satu titik waktu, lalu membekukannya menjadi norma. Padahal ekosistem bersifat diakronik. Ia bergerak, berubah, menua.
Tanpa memahami umur ekosistem, kita mudah salah membaca tanda. Kita mengira keramaian sebagai kerapuhan, atau sebaliknya. Kita melindungi dengan penuh semangat, tetapi tidak selalu dengan pemahaman.
Melindungi semuanya sama saja dengan tidak memahami apa yang kita lindungi.
Remaja, lansia, dan salah tafsir keramaian
Bayangkan dua ruangan yang sama-sama ramai. Yang satu pesta ulang tahun remaja. Yang lain ruang tunggu rumah sakit. Jumlah orangnya mungkin serupa, tingkat kebisingannya mirip. Tetapi maknanya jelas berbeda.
Keramaian pada remaja adalah ekspresi energi. Keramaian pada lansia adalah kebutuhan dukungan. Biodiversitas tinggi pada tanah muda dan pada tanah tua sama-sama “tinggi”, tetapi maknanya tidak sama.
Kesalahan kita selama ini adalah menyamakan keduanya.
Dari high conservation value ke high understanding value
Tulisan ini tidak bermaksud menggantikan konservasi dengan budidaya, atau sebaliknya. Ia hanya mengusulkan satu hal yang tampaknya makin langka: berpikir lebih pelan sebelum memberi label.
Mungkin yang kita perlukan bukan lebih banyak klasifikasi, bukan lebih banyak singkatan, bukan lebih banyak peta berwarna merah dan hijau. Mungkin yang kita perlukan adalah high understanding value—pemahaman yang menghormati waktu, proses, dan konteks.
Dan jika setelah membaca ini pembaca tersenyum dulu, lalu tersinggung belakangan, barangkali itu pertanda baik. Artinya, refleks sempat berhenti sejenak. Dan dalam dunia yang terlalu cepat memberi alarm, jeda kecil itu sudah merupakan bentuk konservasi tersendiri. Selamat menyambut tahun baru.
*) Guru Besar Ekonomi Kehutanan dan Lingkungan IPB







Komentar Via Facebook :