https://www.elaeis.co

CLOSE ADS
CLOSE ADS
Berita / Siku Kata /

Almanak Kenangan

Almanak Kenangan

ilustrasi. foto: popmama.com


Ujung almanak dilipat-lipat. Bahkan digulung. Kenangan disimpan dalam penggalan waktu yang ditimbus. Ditimbun sejumlah tumpukan massa, sehingga bermutasi jadi serpihan, remah; mengendap dalam lumpur waktu. 

Sekian lama tersangkut di dahan waktu, manusia mengutip kembali ceceran remah kenangan secara acak [random] bak seorang pemulung. Dia hadir kembali dalam nada distorsi. 

Dia mendistorsikan diri sendiri demi kenyamanan kita yang didatangi kenangan itu. Distorsi, sebuah ongkos yang dibayar sendiri oleh kenangan, demi menghapus hutang masa lalu seseorang.

Kenangan, bak mesin waktu yang bekerja dalam sejumlah perkelahian dengan kelupaan. Tersebab lupa lah, kenangan memecat beberapa sisi dan segi. 

Dia hadir dalam kekinian tidak dalam corak getar yang serius sebagaimana kita menjalaninya pada kenyataan perdana [misal; cinta pertama, terpeleset di tepian mandi, tergelincir di pematang sawah masa kecil]. 

Kenangan datang dengan keredupan sendiri, kekaburan kelabu; sebuah siasat atau niat besar untuk menjinakkan sesuatu yang dianggap amat serius, menggetar, menggairah [passionate] pada suatu ketika, sehingga tiba pada hari ini, dia menjadi seakan-akan, seolah￾olah; lucu, indah, banal, kocak, menggelikan dan sesekali malah terkesan norak. 

Kenangan pahit di masa lalu, berubah sontak jadi manis, berkat kemampuan swa-distorsi yang dilakukan oleh kenangan ke atas dirinya. 

Kenangan kelam, berubah manja dan cerlang ketika diterjemah dengan sejumlah lupa. Berkat kelupaan itulah kenangan distruktur ulang dalam jalan kreatif. 

Lalu, dia jadi energi membentuk sirah diri pribadi bahkan sejarah kolektif yang diraba-raba, diduga dan dihubung-kaitkan dengan setumpuk realitas atau pun variat yang berseberangan, namun berdaya rengkuh relasional; menjadi pengetahuan [bahkan sains]. 

Masyarakat dalam makna sosiologis adalah keterikatan sosial imajinal alias imagined community, meminjam Ben Anderson. Jika tak diikat oleh kenangan, maka dia hanya setumpuk benda. Indonesia ialah ikatan kenangan dalam sejumlah ‘lupa’. 

Kenangan pula yang setia menggelitik ketiak pengetahuan-konseptual, sebagai jalan akademis. Dia juga bertindak adil, mendatangi ketiak pengetahuan-persepsional, lalu menggelitik dalam ritme yang setara, sehingga terbit kegelian dalam jalan yogi spiritualis. 

Dua jalan pengetahuan yang amat berlainan: yang satu mengandalkan keunggulan rasional konseptual [akademis], yang terakhir mengedepankan keperkasaan perseptual [spiritualitas]. Kedua jenis pengetahuan ini tetap dijembatani dan dilayari oleh kenangan. 

Manusia membangunan arsitektur kenangan itu demi menerbitkan pengetahuan [tentang ‘tahu’ dan ‘sadar’] akan sesuatu yang berada di dalam atau pun yang terlontar di luar diri. 

Kenangan, di sini bak seutas benang untuk alat navigasi perjalanan melorong ke belakang, agar mengalami “kesesatan kreatif’. Perjalanan ke belakang itu selalu dibayangi oleh godaan lupa. 

Baca juga: Tahun dan Kenangan

Lewat kelupaan pula, manusia menukil imaji yang berlapis-lapis untuk memperkaya kenangan, menampilkan kenangan dalam corak warna kekinian, memberi bingkai. 

Maka, kenangan sepahit apa pun adalah hidangan terlezat yang enak dinikmati di atas meja makan nan menerbit liur [bukan meja makan ala borjuis Prancis yang dikerangkai sejumlah aturan rigid dan kosa kata serba kaku].

Tanpa seutas benang, seseorang yang mengenakan kalung, tak dibisa disebut kalung. Tersebab benang [kenangan], kalung jadi bermakna. 

Dia bisa mengikat permata di ujungnya. Permata itulah ‘peristiwa’ yang ditumpu oleh ‘kenangan’. Kita dipaksa untuk menumpu ‘permata kenangan’, termasuk kenangan yang disajikan dalam alam mimpi. 

Kita senantiasa menggadai syaraf ingatan dan me-‘reka ulang’ neuro-system, demi untuk mengingat-ingat kembali kenangan yang didisplay dalam alam mimpi. Walau dalam rute yang amat semrawut, bergulung-gulung; terkadang ujung jadi pangkal, pangkal mendaku sebagai ujung kisah di alam mimpi.

Kenangan juga menyemburkan kontradiksi; paradoks? Entahlah. Kenangan sebagai ‘proyek lupa’ beroperasi dalam sejumlah distorsi untuk memberi ruang kepada kita melakukan ‘pelarungan’ atau dalam terma kekinian disapa sebagai konferensi, persidangan atau seminar untuk menyambung, melakukan las dan bila perlu sebuah cor ulang terhadap tulang ‘punggung kenangan’ yang kerap digilas lupa.

Berkat lupa, manusia membangun negara, mengurus administrasi. Membangun tradisi [orality dan literasi]. Tersebab lupa, manusia mengisi ruang-ruang sosial, menduduki status sosial sebagai penyorak literasi [kesadaran] akan perlunya tertib dan mengurai kesewenangan hidup [kekacauan sosial, sampai semacam bentuk typo yang terjadi pada rerangkai teks naratif bagi seorang penulis].

Di satu sisi mendaku-daku selaku juru kampanye literasi dalam segala sisi, berceramah dan mengisi ruang-ruang sosial [dan memperoleh popularitas dan honorarium], tapi kejadian typo menjadi kutukan yang beriring dengan kemuliaan perbuatan profetik juru literasi ke tengah publik. 

Almanak tahun yang berganti dan bersalin itu, mencatat segala kecemerlangan sekaligus ketololan kita dalam menukil kenangan bak seutas benang [sutera] demi mengikat dan menautkan dua sisi lubang permata di ujung benang, sehingga dia layak disebut kalung. 

Sebelum perang atau pertinjuan, sejatinya terjadi pertengkaran antara kenangan dan kelupaan. Kelupaan adalah ‘proyek distorsi’ yang menanggalkan kenangan dalam corak yang utuh. 

Kita menukil kembali ketak-utuhan itu dalam terjemahan-terjemahan mendungu. Pun, manusia dengan segala capaian purna mendorong keutuhan corak kenangan itu yang bisa direplikasi dalam kehandalan serba utuh oleh mesin pembelajar otomatis hari ini; Artificial Intelligence

Kenangan siap dipanggil dan menampilkan dirinya dalam keutuhan purna. Di tahap ini, dia bukan kenangan lagi: tak lagi digading-gading oleh ‘sang lupa’.


 

Yusmar Yusuf
Komentar Via Facebook :