Langkah ini juga sebagai upaya melindungi petani plasma dan swadaya dari serangan hama yang mengancam kesejahteraan masyarakat. Sebagaimana diketahui dan sudah banyak dirasakan, serangan hama serangga di kebun dapat berakibat fatal, menurunkan produktivitas dan merusak tanaman.
Santosa menjelaskan, pemanfaatan predator hama menjadi upaya serius yang dilakukan perseroan dengan melaksanakan penelitian dan mendigitalisasi sistem antisipasi serangan hama. Upaya ini bermanfaat untuk meningkatkan produktivitas tanaman.
Menurut dia, pengendalian hama dengan parasitoid yang dilakukan Astra Agro mampu menekan biaya aplikasi pestisida. Sayangnya tidak dirinci besaran dan persentase biaya yang bisa ditekan.
Merujuk pada Laporan Keberlanjutan AALI 2023, perusahaan telah mengadopsi rantai makanan alami untuk pengendalian hama melalui metode pengendalian hayati. Yaitu, dengan menggunakan predator alami untuk menekan populasi hama. Seperti, serangga predator untuk hama ulat, burung hantu untuk pengendalian tikus, dan sebagainya.
Selain itu, AALI juga mengembangkan kawasan tanaman dan lokasi konservasi yang berfungsi sebagai habitat predator hama. Disebutkan, sampai tahun 2023, perusahaan telah memperluas kawasan tanaman bermanfaat menjadi 2,81 juta m², naik dari 1,97 juta m² pada tahun 2021 dan 2,5 juta m² pada tahun 2022.
Sementara itu, kawasan konservasi juga bertambah, dari 5.600 petak pada tahun 2021 menjadi 8.200 petak pada tahun 2022, dan mencapai 10.600 petak pada tahun 2023. Ada pun luas total kebun sawit perusahaan ini pada 2024 tercatat 285.387 hektare.
Santosa yang bergabung dengan Grup Astra sejak lama, persisnya tahun 1989, memahami betul bahwa budidaya kelapa sawit tak lepas dari masalah hama. Namun, pestisida kimia bukan lagi satu-satunya solusi, apalagi jika mempertimbangkan dampak buruk yang ditimbulkannya terhadap lingkungan.
“Bagi kami, pestisida kimia kini dianggap sebagai pilihan terakhir, hanya digunakan pada proses pembibitan atau pada saat serangan hama kritis,” ucap pria kelahiran Pria kelahiran Mojokerto, Jawa Timur, 1 Juni 1966, ini.
Meskipun menghadapi tantangan fluktuasi harga komoditas, AALI menyebut telah menunjukkan kinerja yang konsisten. Hingga September 2024, pendapatan perusahaan meningkat sebesar 3,8% secara tahunan (yoy).
Sementara EBITDA (Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) tumbuh sebesar 11,1% secara tahunan, menandai pemulihan positif setelah penurunan harga minyak sawit pada tahun sebelumnya.
Sukses Kendalikan Hama Minim Pestisida, Astra Agro Peroleh Apresiasi
Diskusi pembaca untuk berita ini