Rengat, elaeis.co - Diperkirakan hampir sebulan banjir melanda beberapa daerah Provinsi Riau, khususnya Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu). Kalangan petani kelapa sawit, holtikultura, hingga wirausaha yang tinggal di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri sangat terdampak oleh bencana alam itu.
Sederet curhatan warga pemukiman DAS yang dirangkum elaeis.co saat bercengkrama dengan mereka pada Kamis (11/1).
Kebanyakan melontarkan aktivitas menuju kebun untuk melakukan perawatan maupun membawa hasil perkebunan ke tengkulak lumpuh total lantaran lahan digenangi air banjir.
"Simalakama bagi kami petani, dipaksa panen di saat nilai tawar TBS petani rendah. Seakan-akan para tengkulak 'tidak mau beli' dengan alasan kualitas buah jelek, kemudian biaya transportasi tinggi karena ke lokasi perkebunan tidak bisa dilalui kendaraan akibat banjir," terang Syafari, salah satu warga Danau Baru, Kecamatan Rengat Barat.
Selain sulit dalam proses panen, faktor inilah kebanyakan pekebun membiarkan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit membusuk di batang. Dia tidak terlalu mempersoalkan 'buah emas' itu tidak panen, namun was-was pada perkembangan tanaman yang cenderung dapat rusak.
"Ya, kalau sekarang tidak terasa efek banjir merendam pohon sawit, tapi beberapa bulan ke depan kemungkinan bisa stres sehingga penurunan produktivitas hasil," tuturnya.
Dia merinci, umur tanam kebun sawit masyarakat di DAS saat ini rata-rata masih berusia 6 tahun ke bawah. Jika ketinggian air 1,5 meter, dapat disimpulkan tanaman sawit yang usia 2 - 3 tahun tanaman nyaris tenggelam dan dampak fatalnya daun sawit menguning.
"Kami berharap kepada pemerintah, tidak hanya mempedulikan korban dampak banjir saja, namun pasca banjir juga perlu diperhatikan karena sangat membutuhkan bantuan," pungkasnya.
Untuk diketahui, masyarakat di pinggir sungai yang mengalami bencana banjir di Kecamatan Rengat Barat di antaranya Desa Barangan, Alang Kepayang, Danau Baru, Redang, Pekan Heran, Rantau Bakung, dan Sialang Dua Dahan.
Pantauan elaeis.co hingga saat ini pemerintah terus mendistribusikan paket sembako kepada masyarakat yang terdampak korban banjir. Pada 10 Januari 2024, Pemda menggelar rapat untuk mendirikan Posko Siaga Darurat bencana banjir.
Dari kesimpulan rapat itu, Pemda mendirikan Posko Siaga Darurat di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Rengat. Sedangkan untuk posko setingkat kecamatan akan dibuat di masing-masing kecamatan dan lokasi strategis supaya memungkinkan mendrop bantuan bahan pangan untuk masyarakat.
Simalakama Petani Sawit di DAS Akibat Air Sungai Indragiri Meluber
Diskusi pembaca untuk berita ini