Menurut Angga, perusahaan, pengguna komoditas, dan sektor ritel memiliki ruang besar untuk meningkatkan penerapan prinsip keberlanjutan dalam rantai pasok.

Peluang tersebut juga sejalan dengan kajian WWF Indonesia bersama Accenture yang dirilis pada Mei 2026. 

Kajian itu menunjukkan semakin terbukanya kesempatan bagi sektor ritel dan pengguna komoditas di Indonesia untuk mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam rantai pasok, termasuk sawit.

Masalahnya, permintaan saja tak cukup. Pertumbuhan pasar harus dibarengi kesiapan produsen di tingkat hulu.

WWF mencatat sejumlah tantangan masih membayangi pengembangan sawit berkelanjutan. 

Di antaranya registrasi lahan yang belum lengkap, produktivitas pekebun yang masih rendah, keterbatasan akses pembiayaan, lemahnya ketertelusuran, serta belum optimalnya sistem digital.

Persoalan tersebut menjadi penting karena konsumen dan pasar global kini semakin menuntut produk yang dapat dibuktikan asal-usul serta proses produksinya.

Karena itu, transparansi rantai pasok menjadi salah satu kunci utama transformasi industri sawit.

"Transparansi rantai pasok adalah kata kunci untuk transformasi pasar," ujar Angga.

WWF mendorong penguatan ketertelusuran, penggunaan bahan baku berkelanjutan, sertifikasi kredibel, hingga pemberian insentif bagi pekebun untuk membantu mengimbangi biaya sertifikasi.

Pembiayaan konservasi dan pengembangan pasar domestik juga dinilai perlu diperkuat.

Transformasi sawit berkelanjutan membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pekebun, pemerintah, perusahaan, lembaga keuangan, dan pemangku kepentingan lainnya harus bergerak dalam arah yang sama.

Pada April 2026, Kementerian Koordinator Bidang Pangan dan WWF Indonesia telah berkolaborasi dalam transformasi tata kelola sawit. 

Fokusnya mencakup praktik pertanian yang baik, penerapan prinsip keberlanjutan, serta penguatan pendampingan bagi pekebun swadaya.

Pemerintah juga mendorong tata kelola industri yang inklusif, transparan, dan akuntabel. Langkah ini diarahkan bukan hanya untuk menjaga daya saing sawit Indonesia, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan pekebun.

Dengan kontribusi sekitar 58% terhadap produksi minyak sawit global dan produksi CPO sekitar 46 juta-51,6 juta ton pada 2024-2025, Indonesia punya posisi yang sangat kuat.

Kini tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana menjual lebih banyak sawit. 

Pertanyaannya adalah bagaimana besarnya pasar tersebut bisa menjadi mesin untuk memperbaiki tata kelola, meningkatkan produktivitas pekebun, memperkuat ketertelusuran, dan memastikan pertumbuhan industri berjalan beriringan dengan keberlanjutan.