Bengkulu, Elaeis.co - Harga minyak sawit mentah (CPO) terus merosot pasca libur lebaran Idul Fitri 1445 hijriah. Data terbaru menunjukkan bahwa harga CPO telah menyentuh angka terendahnya sejak beberapa waktu terakhir, mencapai Rp 12.460 per kilogram atau menurun dibandingkan sebelum Idul Fitri yang tercatat Rp 13 ribu lebih per kilogram. Penurunan drastis ini menjadi pukulan keras bagi petani sawit di Bengkulu, yang kini merana akibat dampak ekonomi yang terjadi.
Sekretaris DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Provinsi Bengkulu, John Simamora mengatakan, kondisi anjloknya harga CPO tersebut memberikan tekanan tambahan bagi para petani sawit di Bengkulu. Mereka mengalami penurunan pendapatan signifikan karena harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di daerah ini juga mengalami penurunan yang cukup besar.
"Dampaknya cukup terasa bagi kami. Harga TBS kelapa sawit turun drastis pasca Lebaran, dan sekarang dengan harga CPO semakin anjlok, tentu saja ini menjadi beban ekonomi yang berat bagi petani," ujar John, Kamis 18 April 2024.
Baca Juga: Sudah Harga TBS Kelapa Sawit Anjlok, Petani Masih Kena Potongan Pabrik
Penurunan harga CPO dipicu oleh kondisi di banyak pabrik pengolahan kelapa sawit yang mengalami kelebihan pasokan TBS. Pasca libur Lebaran, banyak petani yang memanen TBS kelapa sawit secara serentak, menyebabkan penumpukan pasokan yang tidak terduga.
"Kami tidak bisa mengendalikan harga di pasar CPO internasional, namun, kondisi ini memberikan pelajaran berharga bagi kami untuk lebih memperhatikan koordinasi antara masa panen dan kapasitas pabrik pengolahan," ungkapnya.
Sementara itu, Kabid Perkebunan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, Bickman Panggarbesy mengatakan, pemerintah daerah bersama dengan asosiasi petani berupaya mencari solusi untuk mengatasi dampak negatif dari penurunan harga CPO. Mereka sedang menjajaki berbagai strategi termasuk peningkatan nilai tambah produk kelapa sawit lokal.
"Masa sulit seperti ini membutuhkan kolaborasi yang erat antara pemerintah, petani, dan industri untuk menemukan solusi yang tepat guna memperkuat ketahanan ekonomi petani sawit di Bengkulu," tegas Bickman.
Baca Juga: Alamak, Harga TBS Kelapa Sawit di Mukomuko Kembali Turun
Ia mengaku, seharunya penurunan CPO tidak terjadi disaat permintaan dari sejumlah negara naik. Oleh sebab itu perlu adanya langkah-langkah strategis yang diambil, salah satunya mendorong petani tidak melakukan pemanenan serentak.
"Kalau panen serentak tidak dilakukan maka kemungkinan harga TBS kelapa sawit bisa stabil, karena produksi CPO tetap terkendali," pungkasnya.
Harga CPO Merosot Pasca Lebaran, Petani Sawit di Bengkulu Ikut Terdampak
Diskusi pembaca untuk berita ini