Kuala Lumpur, elaeis.co - Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI Sukamta menilai, satu tantangan terkini yang dihadapi bersama oleh Indonesia dan Malaysia adalah diskriminasi yang semakin meresahkan terhadap kelapa sawit.

Selama ini, tambah Sukamta, Indonesia sebagai produsen dan eksportir minyak sawit mentah terkemuka dunia terus bekerja sama melalui Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), seringkali berbagi suara yang sama dalam memerangi diskriminasi terhadap minyak sawit.

Sukamta mengatakan itu saat mengikuti pertemuan bilateral the League of Parliaments for Al-Quds (LP4Q) dengan Ketua Parlemen Malaysia Dato’ Johari bin Abdul di Gedung Parlemen Malaysia, Kuala Lumpur, Rabu (7/6).

"Kerja sama erat di bidang khusus ini juga direplikasi di bidang lain, antara lain, termasuk kejahatan transnasional, terorisme, dan manajemen bencana,” ujar Anggota Komisi I ini.

Sukamta menambahkan, hubungan dekat Indonesia-Malaysia ini telah memastikan dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap stabilitas regional, perdamaian, dan Komunitas ASEAN. Termasuk, Indonesia juga bekerja sama di berbagai organisasi regional dan internasional khususnya di OKI.

“Hubungan yang sangat baik antara Indonesia dan malaysia menunjukkan upaya berkelanjutan untuk mempererat hubungan bilateral, terutama di bidang ekonomi dan budaya, pendidikan, pariwisata, dan pekerja migran,” jelas Politisi Fraksi PKS ini, dilansir elaeis.co dari website resmi DPR RI, Jumat (9/6).

Selain itu, Sukamta juga menyampaikan bahwa kunjungannya bersama LP4Q ini merupakan kristalisasi diplomasi parlementer yang memiliki peran vital.

Diplomasi parlemen, baik secara multilateral (melalui IPU, PUIC, AIPA, APA, APPF) maupun bilateral (melalui pembentukan kelompok persahabatan parlemen dengan Parlemen Palestina) memainkan peran yang sangat strategis dalam memajukan kerjasama di berbagai bidang termasuk untuk mempromosikan dukungan politik yang lebih kuat untuk Palestina.

Sehingga, tegasnya, DPR RI sebagai perwakilan rakyat, berpandangan bahwa kerja sama antara parlemen kami akan berkontribusi untuk kemajuan positif bagi perjuangan Palestina dengan membawa rakyat kami untuk membela Palestina dan menjembatani pemangku kepentingan yang lebih luas dalam mendukung perjuangan Palestina.

“Bulan Agustus 2023 mendatang kita akan bertemu di Jakarta dalam rangka pertemuan AIPA General Assembly. Kami benar-benar berharap untuk memanfaatkan kesempatan itu untuk menggemakan kembali kepedulian AIPA atas perjuangan Palestina. Selain itu, parlemen kita dapat berkolaborasi untuk menjadi aktor utama dalam mengarusutamakan perjuangan Palestina dalam pertemuan parlemen regional dan global,” jelasnya.

“Biarlah parlemen kita menjadi rumah yang aman bagi aktivis pro-Palestina dan organisasi masyarakat sipil, menempatkan mereka sebagai mitra strategis dan aktor kunci non-pemerintah dalam hal mendukung rakyat Palestina, demikian disampaikannya pada pertemuan tersebut,” tutupnya.