IOPS Forum Diharapkan Tak Berhenti

Antonius menyebut IOPS Forum 2026 menjadi momentum penting karena mempertemukan pekebun kecil dari berbagai negara produsen kelapa sawit.

Forum tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pertemuan dan pertukaran gagasan semata. CPOPC mendorong agar forum menghasilkan kerja sama serta resolusi bersama untuk memperkuat posisi pekebun rakyat.

“Saya kira ini perlu dijaga dan jangan sampai inisiatif ini hanya berhenti sampai hari ini saja,” tegasnya.

CPOPC, kata Antonius, menyambut baik penyelenggaraan forum tersebut karena sejalan dengan fungsi organisasi dalam melakukan kerja sama dan promosi kelapa sawit sekaligus mendorong pemberdayaan pekebun kecil.

“Salah satu fungsi utama CPOPC adalah melakukan kerja sama dan promosi kelapa sawit. Tetapi kita tidak boleh melupakan pemberdayaan petani kecil. Ini menjadi salah satu tugas utama dari CPOPC,” ujarnya.

Saat ini, CPOPC terdiri dari lima negara anggota, yakni Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Honduras, dan Thailand. Nigeria disebut sedang dalam proses untuk bergabung sebagai anggota keenam.

Menurut Antonius, keberagaman negara produsen yang terlibat dalam forum menjadi modal untuk membangun perspektif bersama. Pengalaman masing-masing negara dapat menjadi pembelajaran dalam mencari solusi atas berbagai persoalan pekebun rakyat.

“Harapan kami dari forum ini akan muncul ide-ide yang semangat bagaimana melibatkan petani kecil dan merancang sejarah kebangkitan kita,” katanya.

Ia juga mengapresiasi DPP APKASINDO yang telah menginisiasi pertemuan pekebun kecil dari berbagai negara produsen sawit. Menurutnya, kolaborasi lintas negara diperlukan agar suara pekebun rakyat semakin kuat dalam pembahasan masa depan industri sawit global.

Melalui IOPS Forum 2026, CPOPC berharap lahir gagasan dan resolusi bersama yang mampu memperkuat posisi pekebun rakyat, meningkatkan kesejahteraan, serta menjaga keberlanjutan industri kelapa sawit.