Pasbar, elaeis.co - Sudah relatif cukup banyak perkebunan kelapa sawit --terutama dari kelompok petani swadaya-- yang saatnya diremajakan karena usia tanaman yang sudah tua, di atas 25 tahun.
Pada bagian lain, jangkauan program peremajaan sawit rakyat (PSR) yang didanai Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) sangat terbatas, selain prosesnya yang tidak gampang.
Makanya, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), menyatakan memberi apresiasi terhadap petani yang dengan inisiatif dan biaya sendiri melakukan replanting terhadap tanaman sawitnya.
Safridal, Ketua Apkasindo Pasbar, mengaku tidak tahu persis jumlah petani sawit di Pasbar yang mereplanting sendiri tanaman sawitnya. "Mungkin dalam jumlah yang cukup banyak," katanya kepada elaeis.co melalui sambungan telepon, Rabu (16/3).
Safridal menyebut langkah itu perlu dipuji dan diikuti oleh petani lainnya. "Itu langkah dengan perspektif yang jauh ke depan," ungkap Safridal, yang juga anggota DPRD Pasbar tersebut.
Selain dimungkinkan oleh nilai jual tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang relatif membaik belakangan, menurut Safridal, langkah itu juga berkat bimbingan dari instansi terkait, yang memperkenalkan petani dengan sistem tumpang sari kelapa sawit dengan komoditas lain seperti padi dan jagung.
"Jadi, ketika tanaman sawit belum menghasilkan buah karena dalam proses replanting, sumber ekonomi bisa diharapkan dari tanaman tumpang sari," ungkap Safridal lagi.
Kendati demikian, Safridal tetap berharap Pasbar dapat prioritas di program PSR. " Karena dipastikan tidak semua petani sawit yang memiliki kemampuan ekonomi untuk mereplanting sendiri kebunnya," tutup Safridal.
Apkasindo Pasbar Apresiasi Petani yang Mereplanting Sendiri Perkebunan Sawitnya
Diskusi pembaca untuk berita ini