Internasional 

Uraaa! Borok Eropa Menganga

Uraaa! Borok Eropa Menganga
Juru bicara GAPKI, Tofan Mahdi. foto: gapki

Jakarta, elaeis.co - Kalau saja Rusia dan Ukraina tidak beradu laras senapan, bisa jadi sampai sekarang, orang masih terus-terusan mengelus Eropa yang anti sawit. 

Sebab selama ini, sawit perusak hutan, tidak ramah lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan terus digembar-gemborkan. Sampai-sampai lebel "palm oil free" dibikin pada produk makanan sebagai upaya menyelamatkan nyawa orang Eropa. Pokoknya; hindari minyak sawit. Tak sehat itu! Begitulah kesan yang ada.  

Tapi apa lacur, selama Rusia-Ukraina baku tembak, pasokan minyak bunga matahari dan canola dari dua negara ini ke Eropa, mampet. Orang Eropa blingsatan, bingung mencari alternatif. 

Saking bingungnya, minyak sawit pun diburu, lupa kalau selama ini minyak sawit telah dijelek-jelekkan. "Jangan kaget kalau sekarang produsen makanan di Eropa mencari minyak sawit," kata Juru Bicara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Tofan Mahdi kepada elaeis.co, tadi siang.

Sikap orang Eropa itu kata Tofan menjadi bukti bahwa sebetulnya kampanye negatif yang dilakukan Eropa selama ini, cuma perang dagang. 

"Kalau kampanye itu didasari hasil riset, mestinya mereka enggak berani mengambil risiko. Wong mereka bilang minyak sawit itu enggak sehat kok. Tapi lantaran kampanye itu cuma perang dagang, ya begitulah jadinya. Boroknya ketahuan," bekas Wapimred Jawa Pos ini mencibir. 

Oleh kenyataan yang ada itu kata Tofan, ada baiknya masyarakat lebih memahami kepentingan lain di balik kampanye negatif yang dilakukan negara-negara Eropa itu. 

"Sawit telah menjadi icon bangsa, kontribusinya nyata. Tengok sajalah. Tahun lalu, ekspor sawit mencapai angka USD35 miliar. Ini artinya, sawit telah menyumbang lebih dari Rp500 triliun," dia merinci.

Aktifitas sawit kata Tofan telah membikin kocek pemerintah Indonesia gendut. Soalnya dari tiap ton minyak mentah berbanderol USD 1.500, USD200 dalam bentuk Bea Keluar (BK) mengalir ke kocek pemerintah. Belum lagi Pungutan Ekspor (PE) yang USD375 per ton. 

"Nah, naiknya harga minyak sawit saya pikir menjadi momen paling tepat bagi para pelaku usaha sawit untuk membenahi tata kelola perkebunan kelapa sawitnya. Biar nanti hasil produksi menjadi lebih baik dan performanya terus meningkat," Tofan mengajak penuh harap.


 

Editor: Abdul Aziz