Lipsus 

Tiga Isu Penting Biodiesel Dibahas di Yogya

Tiga Isu Penting Biodiesel Dibahas di Yogya
Menteri ESDM, Arifin Tasrif, usai berbicara di Konfrensi Biodiesel Sawit di Yogyakarta, Kamis (24/3). foto: aziz

Yogyakarta, elaeis.co - Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Airlangga Hartarto membuka secara virtual Konferensi Biodiesel Kelapa Sawit ke-3 jelang siang tadi. 

Sama seperti Airlangga, dari Malaysia, Menteri Perkebunan dan Komoditas Malaysia, H.E. YB Datuk Hajah Zuraida Kamaruddin, juga memberi sambutan. 

Dalam hitungan menit kemudian, Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, datang langsung ke area konfrensi di Suko Wine Lounge, lantai 7, Sheraton Hotel Yogyakarta itu. 

Kebetulan di hotel yang sama, Tasrif sedang ada acara terkait penggunaan sepeda motor listrik.    

Airlangga menyampaikan penghargaan tertinggi kepada Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) dan Dewan Sawit Negara Penghasil Minyak Sawit (CPOPC) yang sudah menggelar konfrensi itu. 

Baca juga: Antusias Lintas Negara Untuk KBS Yogya

Kepada Malaysian Biodiesel Association, Thai Biodiesel Producer Association, dan Indonesia Malaysia Thailand - Growth Triangle, dia juga berterimakasih lantaran sudah mendukung acara itu. 

Bagi Airlangga, konfrensi yang berlangsung dari pagi hingga sore itu menjadi sangat penting lantaran Indonesia, sudah 14 tahun menjalankan program biodiesel.

"Perjalanan panjang itu sangat berarti bagi kami dan sekarang Indonesia adalah produsen biodiesel terbesar di dunia, dan pencampur tertinggi," katanya.

Ada sederet alasan kenapa Indonesia kata Airlangga mempertahankan biodiesel yang sejak 2008 lalu telah menjadi mandatori itu. 

"Mandatori biodiesel sejauh ini baik untuk ekonomi, masyarakat dan lingkungan. Program ini menguntungkan kita lebih dari yang kita harapkan," ujarnya.

Secara lingkungan kata Ketua Umum Partai Golkar ini, tahun lalu B30 diperkirakan telah mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 24,6 juta ton CO2, dan jumlah ini mencapai 7,8 persen dari target pencapaian energi terbarukan tahun 2030.

Secara ekonomi, tahun lalu B30 diproyeksikan sekitar 9,4 juta kiloliter atau setara dengan 64,14 juta barel. Konversi Crude Palm Oil (CPO) menjadi B30 telah meningkatkan nilai tambah sebesar Rp13,19 triliun untuk menghemat cadangan devisa USD2,64 miliar lantaran telah mengurangi impor bahan bakar berbasis fosil.

Di sisi lain, Tasrif menyebut bahwa B40 sudah bisa dijalankan. Namun menengok produksi CPO yang ada sekarang, pengaplikasian B40 itu masih belum bisa dilakukan. 

"Kalau produksi minyak sawit kita sudah siap untuk itu, barulah kita lakukan," katanya. 

Terkait Konfrensi Biodiesel Kelapa Sawit tadi, ada tiga poin penting yang bakal dibahas dalam tiga sesi. Pertama adalah Kebijakan dan Status Mandatori Biodiesel. 

Di sesi ini, U.R. Unnithan, President of Malaysian Biodiesel Association, Jorge Bendeck, Director of National Federation of Biofuels of Colombia, Sanin Triyanond, Chairman of Thai Biodiesel Producer Association, Paulus Tjakrawan, Vice Chairperson of Indonesia Biofuels Producer Association dan Djono Albar Burhan, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), yang bakal berbicara.

Di sesi kedua adalah Peluang dan Tantangan Biodiesel dan Kerjasama Global menjadi topiknya. Cahyo Setyo Wibowo, Head of Product Application Technology LEMIGAS, Kukuh Kumara, Secretary General The Indonesian Automotive Industries Association (GAIKINDO), Dr Gede Wibawa, Ministry of Trade Expert Team Member, Indonesia,  Tan Sri Datuk Dr Yusof Basiron, Executive Director of Council of  Palm Oil Producing Countries (CPOPC), dan Dr Julian McGill, Head of Southeast Asia, LMC Internatonal menjadi para pembicara.

Di sesi ketiga, Pengembangan Produk Hilir menjadi bahasan. Dr Tatang Hernas Soerawidjaja, Senior Scientist, Bandung Institute of Technology (ITB), Rapolo Hutabarat, Chairman, Indonesian Oleochemical Manufacturer Association (Apolin), Prof Erliza Hambali, Founder of the Surfactant and Bioenergy Research Center, IPB University, Andianto Hidayat, VP Downstream Research and Technology Innovation PT Pertamina dan Norman Ellard, President of IP Specialities, bakal berbicara panjang. 


 

Editor: Abdul Aziz