Bang Tungkot 

Minyak Goreng Sawit Hemat Emisi

Minyak Goreng Sawit Hemat Emisi
Deretan kemasan migor di salah satu retail yang ada di Pekanbaru, Riau. foto: aziz

Makanan yang serba digoreng adalah jenis makanan yang banyak diminati oleh masyarakat Indonesia. Hampir semua menu makanan mulai dari hidangan utama (main course) hingga makanan ringan atau cemilan juga di goreng.  

Proses penggorengan dengan menggunakan metode deep fried akan menghasilkan tekstur yang renyah dan garing. Ketika memakannya akan menimbulkan sensasi “kriuk”. 

Sensasi tersebut tidak didapatkan pada makanan yang direbus atau dibakar. Tampilan makanan yang digoreng juga terlihat lebih menggoda dibandingkan makanan yang diolah dengan cara lain.

Dengan eating habbit tersebut, komoditas minyak goreng sudah pasti menjadi bahan masakan yang harus tersedia di dapur. 

Besarnya peran minyak goreng dalam dunia kuliner Indonesia menjadikan produk ini termasuk kedalam Sembilan Bahan Pokok (Sembako).

Dikaitkan dengan posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, hal ini sangat menguntungkan bagi konsumen minyak goreng. 

Konsumen dapat memperoleh dengan harga minyak goreng yang murah. Mengingat minyak sawit merupakan bahan baku utama yang digunakan untuk memproduksi minyak goreng. 

Namun saat ini terjadi ironi. Harga minyak goreng di Indonesia mahal seiring dengan peningkatan harga minyak sawit di pasar dunia. 

Untuk mengatasi masalah tersebut, Pemerintah Indonesia pun menerapkan paket kebijakan. Baca5 Paket Kebijakan Pemerintah Untuk Menaklukkan Harga Minyak Goreng Yang Meroket

Belum terselesaikan masalah tersebut, muncul masalah lain yaitu kelangkaan. Minyak goreng sawit baik dalam bentuk curah maupun kemasan sangat sulit ditemukan di warung kelontong atau toko retail modern. 

Fenomena kelangkaan dan mahalnya minyak goreng sawit juga menjadi bukti bahwa minyak sawit sangat penting bagi masyarakat Indonesia dan dunia. 

Tidak hanya berperan dalam memenuhi kebutuhan pangan dan energi, faktanya minyak sawit memiliki peran yang jauh lebih besar bagi kehidupan manusia di planet bumi. 

Minyak sawit memiliki fungsi ekologis yang jarang terekspos salah satunya hemat emisi. Baca:  Melihat Sustainability Industri Sawit Dalam Aspek Lingkungan.

Emisi, global warming dan climate change menjadi topik hangat yang didiskusikan. Komunitas global menyadari bahwa perubahan iklim berdampak pada keberlangsungan kehidupan manusia. 

Dengan kesadaran tersebut, saat ini banyak muncul gerakan untuk menurunkan emisi sebagai upaya mitigasi perubahan iklim global. 

Pada COP-26 di Glassglow, para pemimpin dunia juga berkomitmen untuk mencapai Net Zero Emission pada tahun 2050. 

Komitmen untuk menurunkan emisi global tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau negara, tetapi seluruh sektor dapat berkontribusi. 

Industri sawit sebagai salah satu sektor strategis bagi perekonomian Indonesia, juga ternyata menyimpan potensi yang besar untuk berkontribusi terhadap penurunan atau penghematan emisi. 

Kontribusi industri sawit dalam penghematan emisi dapat dilihat dari perannya sebagai “paru-paru ekosistem”. Sama seperti hutan, perkebunan sawit juga dapat menyerap emisi karbondioksida (CO2) melalui proses fotosintesis. 

Kebun sawit mampu menyerap 64,5 ton CO2 per hektar. Dengan luas yang mencapai 16,3 juta hektar maka perkebunan sawit Indonesia mampu menyerap CO2 sebesar 1,03 giga ton. 

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa CO2 merupakan komponen emisi Gas Rumah Kaca (GRK) terbesar di dunia.

Tidak hanya menyerap karbon dioksida dari atmosfer, perkebunan sawit juga menyimpan karbon (carbon stock) tersebut dalam bentuk biomassa seperti minyak, cangkang, pelepah, batang hingga akar. 

Jumlah carbon stock dalam tanaman kelapa sawit juga terus bertambah hingga usia mencapai 25 tahun. 

Kemampuan dalam penghematan emisi yang dimiliki minyak sawit juga tercermin dari penggunaan pupuk kimia lebih efisien. 

Publikasi PASPI berjudul Jurnal Monitor Vol.2 No.28: Komparasi Polusi Tanah/Air Antara Kebun Sawit, Kedelai dan Rapeseed merujuk studi FAO tahun 2013 yang mengungkapkan fakta tersebut. 

Penggunaan pupuk Nitrogen (N) dan Phospate (P) untuk menghasilkan satu ton minyak sawit lebih rendah dibandingkan dengan minyak kedelai dan minyak rapeseed. 

Artinya residu pupuk untuk memproduksi minyak sawit juga lebih rendah dibandingkan kedua minyak nabati tersebut. Sisa residu pupuk kimia inilah yang akan menjadi emisi N2O atau salah satu komponen emisi GRK.

Studi terbaru juga semakin membuktikan bahwa minyak sawit adalah minyak nabati yang paling sustainable. 

Senada dengan penelitian FAO, studi Beyer yang dilakukan pada tahun 2020 dan 2021 mengungkapkan bahwa emisi yang dihasilkan untuk minyak sawit lebih rendah dibandingkan dengan minyak nabati lainnya. 

Emisi yang dihasilkan untuk memproduksi minyak kedelai lebih tinggi sebanyak 425 persen dari minyak sawit. 

Dibandingkan dengan minyak sawit, emisi yang dihasilkan untuk produksi minyak kacang tanah juga lebih tinggi sebesar 424 persen, minyak kelapa lebih tinggi sebesar 337 persen, minyak rapeseed lebih tinggi sebesar 242 persen, dan minyak biji bunga matahari lebih tinggi sebesar 224 persen. 

Kesimpulannya minyak sawit menempati posisi paling bontot sebagai penghasil emisi (emitter) jika dibandingkan dengan minyak nabati lainnya.

Studi-studi tersebut juga berhasil mematahkan tudingan dari LSM anti sawit. Selama ini, minyak sawit dituding sebagai emitter utama penyebab global warming. 

Ironisnya gerakan “Palm Oil Free” atau “No Palm Oil” sebagai gerakan pro-lingkungan justru menimbulkan konsekuensi yang lebih buruk terhadap lingkungan. 

Hal ini dikarenakan kampanye tersebut yang betujuan untuk menggantikan minyak sawit dengan minyak nabati lain yang ternyata lebih boros emisi.

Fakta diatas seharusnya dapat menambah keyakinan kita terkait keunggulan minyak sawit yang lebih hemat emisi. 

Masyarakat global juga seharusnya mendukung penuh minyak sawit, bukan sebaliknya dengan memerangi dan menolak minyak sawit. 

Dukungan tersebut juga sangat dibutuhkan untuk memproduksi minyak sawit dengan cara-cara yang lebih berkelanjutan. 

Dengan demikian, konsumsi minyak sawit yang berkelanjutan akan membawa Indonesia dan dunia untuk mencapai target Net Zero Emission pada tahun 2050 atau lebih cepat.


 

Editor: Abdul Aziz