Siku Kata 

Kenapa Fitri?

Kenapa Fitri?
ketupat lebaran. foto: wikipedia

Sebuah medan pacu, demi mengangkat tiga potensi. Horatius hanya mengungkap dua potensi yang harus dihidang dalam sebuah karya: dulce et utile (indah dan bermanfaat). 

Kemudian dipertajam lagi: bahwa apa-apa yang dilakukan oleh manusia hendaklah bermuara pada ‘keindahaan yang benar dan kebenaran yang indah’. 

Fitri, kudus, sila, suci (al quds, holy, heilige, sacre) ialah kaidah yang diidam dalam segala prinsip: Suci hati, suci perbuatan, suci amal, suci niat dan berakhir pada suci karya. 

Suci dan kesucian memiliki tiga pilar yang tak bisa dipisah satu sama lain. Dia bak tri-tunggal menyatu. Sesuatu yang indah, belum tentu benar. 

Begitu sebaliknya, sesuatu yang benar belum tentu pula indah. Dua keadaan ini sama sekali tak sampai pada kaidah suci.

Satu pilar yang senantiasa harus disandingkan dengan ‘benar’ dan ‘indah’, yaitu ‘baik’ (hasanah). Inilah syarat dasar menuju suci. Sebab Tuhan Maha Suci. 

Ketika tiga pilar ini ditegakkan, maka tercapailah kesucian itu. Bahwa manusia terlahir suci (fitrah). Tak 
membawa dosa bawaan. 

Dalam perjalanan skuil film (reel) setiap orang mengalami percikan debu, lumpur, kubangan; sebuah kenyataan wajar. Percikan itu bisa berasal dari (antar) sesama manusia. 

Baca juga: Mudik: Tamsil Badan Air

Inilah dosa horizontal. Di sini Tuhan tak ikut campur. Dia tak mengambil hak manusia untuk saling memaafkan. Itu tugas manusia untuk saling bersua dan maaf-bermaafan. 

Selama berpuasa, manusia menyepi bak makhluk soliter (menyendiri). Setelah itu dia harus keluar dari “gua pertapaan” (perang nafsu/ dimensi personal) dan saling menyapa orang dalam dimensi sosial. Tak hanya menyapa, tapi harus menyucikan diri personal dalam kawah sosial. 

Tiga potensi itu adalah (laksana) menjadi seorang yang budiman (baik), ilmuan (benar) dan seniman (indah). Maka, ‘proyek fitri’ itu adalah ikhtiar mencungkil segala kemampuan potensialitas yang berpembawaan baik, benar dan indah. 

Gaya beroperasinya dilakukan secara demonstratif-aktif. Baik, kalau dia tak benar, belum suci. Begitu pula, indah jika dia tak baik, juga belum suci. 

Konstanta ‘benar’ juga tak bernyanyi tentang kesucian jika dia tak indah dan tak baik. 

Tiga potensi itu (ilmuan, budiman dan seniman) ada pada setiap insan. Menjadi suci bukan sebuah ‘proyek simbolik’ semata. Namun, sebuah upaya aktual. 

Pada iedul fitri ini lah kita menampilkan diri bak seorang ilmuan (menegak kebenaran), laik seorang budiman (menghibah kebaikan semesta), juga bak seorang seniman (yang cinta akan keindahan). 

Selama ini, mungkin dimensi ‘menghibur’ lebih semarak dalam ‘proyek fitri’ itu (pesta makan, pakaian, safari jarak jauh/balik kampung dan pamer harta, gemerlap cahaya). 

Ini tangga ‘ibtidaiyah’ (dasar). Menghibur, gelak-tawa juga harus digiring sebagai “didactic heresy” (menghibur, sekaligus mengajarkan sesuatu) ujar Edgar Allan Poe. 

“Proyek fitri” adalah sebuah keniscayaan ‘biologis-ruhi’ tentang bagaimana seseorang berkomunikasi dengan Tuhan dalam kapasitas seorang budiman (penebar kebaikan), seorang ilmuan (penegak kebenaran) dan seorang seniman (pencinta keindahan). 

Kita tak mau terperangkap hanya dengan sikap beriman yang sejulur lurus dan pasrah sebagaimana dinyatakan Balise Pascal: “Berlututlah!, daraskan doa, dan kamu akan percaya”. 

Setiap orang didorong untuk menjadi aktor dalam semangat fitri. Tidak ada yang berposisi selaku penonton. Penontonnya adalah segala makhluk alam raya. Anda, saya, kamu dan kami, kita semua adalah sang aktor dalam ‘proyek fitri’ itu...

Maaf lahir dan batin dari kami di elaeis.co, satu dari sekian aktor itu...


 

Editor: Abdul Aziz