Serba-Serbi 

Gen Z tak Tertarik Sektor Migas, Universitas Pertamina Siapkan Solusinya

Gen Z tak Tertarik Sektor Migas, Universitas Pertamina Siapkan Solusinya
Kunjungan mahasiswa Teknik Perminyakan Universitas Pertamina ke Pusdiklat STEM Akamigas Migas, Cepu. Foto: dok. Universitas Pertamina

Jakarta, elaeis.co - Potensi cadangan minyak dan gas (migas) di Indonesia masih sangat besar. Versi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), jumlah cekungan (basin) di Indonesia mencapai 128 dan 109 diantaranya belum tereksplorasi. Ini menunjukkan betapa luasnya kesempatan lapangan pekerjaan di sektor migas.

Sayangnya, generasi milenial dan gen Z kurang berminat berkarir di bidang migas. Survei yang dilakukan oleh Ernst & Young (EY) menunjukkan hanya 6 persen dari gen Z dan 18 persen milenial yang menganggap bidang migas sebagai pekerjaan yang menarik. Rendahnya minat tersebut diyakini disebabkan oleh kurangnya informasi dan pengetahuan gen Z dan milenial tentang sektor migas.

Rektor Universitas Pertamina, Prof IGN Wiratmaja Puja PhD, mengatakan, sektor hulu migas diestimasi membutuhkan sumber daya manusia (SDM) hingga 32.000 tenaga kerja dan masih bisa menyerap kurang lebih 20.000-an tenaga kerja.

“Sementara untuk sektor midstream, tenaga kerja saat ini diperkirakan berjumlah 69.100 orang dan masih bisa menyerap 5.700-an tenaga kerja lagi. Adapun di sektor hilir, ada sekitar 130.200 tenaga kerja dengan estimasi kebutuhan sebanyak 13.000 tenaga kerja lagi,” katanya melalui siaran pers yang diterima elaeis.co, Rabu (26/1).

Sebagai kampus yang fokus pada pengembangan teknologi dan bisnis energi, Universitas Pertamina siap melahirkan SDM unggul yang akan berkontribusi pada kemandirian dan ketahanan energi nasional. Termasuk diantaranya SDM yang mampu mengelola potensi cadangan migas Indonesia.

“Namun menjadi pekerja di industri migas tidaklah mudah. Selain jam kerjanya yang lebih panjang, mereka juga dihadapkan pada resiko pekerjaan yang mengancam keselamatan jiwa setiap hari. Para pekerja juga dituntut mampu menghadapi dinamika yang terjadi di bawah permukaan tanah yang serba tak pasti. Ditambah lagi ketidakpastian bisnis akibat volatilitas harga minyak dunia dan adanya transisi energi, menuntut mereka untuk dapat beradaptasi dengan dinamika bisnis dan menciptakan solusi yang cepat dan tepat,” paparnya.

Dalam rangka mempersiapkan para lulusan agar memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan oleh industri migas, Universitas Pertamina tak hanya mendidik mahasiswa untuk pintar secara akademik dengan pembelajaran di kelas, praktikum di laboratorium, kuliah lapangan, kuliah pakar, dan kunjungan industri. Para mahasiswa juga didorong untuk memiliki hands-on experience melalui kegiatan ekstra kurikuler seperti mengikuti kompetisi di bidang keilmuan masing-masing.

Tiga mahasiswa Program Studi Teknik Perminyakan Universitas Pertamina, yakni Muhammad Athallah Naufal, Harith Maulana, dan Nicholas Epsilon Nurcholis, misalnya ikut serta di ajang Integrated Petroleum Competition INCEPTION yang digelar oleh Universitas Diponegoro. Menurut Athallah, keikutsertaan dalam perlombaan tersebut sangat menunjang mereka dalam mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.

“Di ajang INCEPTION, kami mengikuti Smart Competition atau lomba cerdas cermat. Ditanyai seputar teori dalam teknik perminyakan serta perkembangan teknologi dan bisnis migas. Pertanyaan seperti itu biasanya tidak jauh berbeda dengan pertanyaan yang akan kami dapatkan ketika ujian atau wawancara kerja di perusahaan atau instansi,” sebutnya.

Berkat dukungan moril dan materil yang diberikan Universitas Pertamina, Athallah dan tim berhasil meraih juara 2 di ajang bergengsi tahunan tersebut.

Selain berbekal pembelajaran di kelas, kata Athallah. Kesuksesan timnya dalam menjawab pertanyaan dewan juri juga ditopang oleh keaktifan para anggota tim dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan di kampus.

“Setidaknya ada tiga organisasi mahasiswa profesi yang saat ini ada di Program Studi Teknik Perminyakan Universitas Pertamina. Yakni Society of Petroleum Engineers (SPE), Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), dan Society of Petrophysics and Well Log Analyst (SPWLA),” ungkapnya.

Selain aktif membahas isu perkembangan dunia migas melalui kegiatan tukar pendapat, diskusi, atau seminar, dengan menghadirkan para praktisi, ketiga organisasi kemahasiswaan tersebut juga menggelar berbagai kegiatan pelatihan. Salah satunya pelatihan penggunaan software seperti Olga, Petrel, CMG, Techlog, Saphir, dan MBAL, untuk menunjang kegiatan eksplorasi migas.

“Dengan segala benefit dan kemudahan akses yang kami miliki, kami yakin dapat memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan industri migas,” tukasnya.

Siswa-siswi SMA yang ingin mengikuti jejak Athallah mempelajari eksplorasi minyak dan gas bumi bisa menjadikan Program Studi Teknik Perminyakan Universitas Pertamina sebagai pilihan melanjutkan pendidikan. Saat ini kampus besutan PT Pertamina (Persero) tersebut sedang membuka pendaftaran Seleksi Nilai Rapor untuk Tahun Akademik 2022/2023.

Pendaftaran dibuka sejak tanggal 03 Januari hingga 13 Februari 2022 mendatang. Seleksi ini merupakan seleksi tanpa tes dan dapat diikuti oleh siswa SMA/sederajat lulusan tahun 2021 dan 2022. Informasi lengkap terkait program studi serta syarat dan ketentuan pendaftaran dapat diakses di laman https://universitaspertamina.ac.id/pendaftaran. 


 

Editor: Rizal