Jenggi 

Dimensi Waktu

Dimensi Waktu
ilustrasi: foto:medium.com

Waktu selamanya menjadi misteri bagi kaum ilmuan dan filosof. Sedangkan kita telah menerima waktu apa adanya, atas pergerakan matahari dan bulan. 

Atas penerimaan apa adanya itu _selama berpijak di atas muka bumi_, kita mengkhianati waktu dengan tinggal di masa lalu atau menerobos masa depan.

Bab tentang waktu yang pernah ditulis tak cukup untuk menjelaskan tentang hanya definisi waktu. Sifat waktu yang berlapis-lapis dan abstrak telah kita sederhanakan dalam sebentuk kuantitas fisik yang dapat diukur, sebutlah dengan ilusi gerak matahari.

Dengan demikian sedikit saja kita melampaui atmosfer, dimensi waktu telah berubah, apakah kemudian kita menginjak bebatuan cincin Saturnus atau mendarat di punggung komet Halley, waktu akan semakin menjauh dari konsep bumi. 

Di sisi lain, waktu dapat digambarkan sebagai ukuran entropi, yang membedakan masa lalu dari masa depan. Di sisi lain, bila dihubungkan dengan teori relativitas, waktu akan mengalami pembengkokan. 

Bila dua pengamat yang bergerak relatif terhadap satu sama lain, mereka akan melihat bahwa jam pengamat lain berdetak lebih lambat.

Seekor lalat atau semut mengalami pemadatan waktu, mata mereka akan melihat gerak manusia sangat lambat, seumpama The Flash yang melihat orang lain melakukan slow motion bahkan nyaris tidak bergerak.

Tentang waktu pernah dijelaskan secara fisika teoritis oleh Stephen Hawking dalam A Brief History of Time, atau cara puitis dan ramah seperti dalam buku The Order of Time yang ditulis Carlo Rovelli. 

Carlo coba menjawab sejumlah pertanyaan apakah ada waktu universal, apa yang mungkin menjadi asal usul waktu, apakah mungkin untuk melakukan perjalanan dalam lorong waktu, atau keluar dari lingkarannya, apa jadinya dunia tanpa waktu?

Baca juga: Bigi Data

Sementara buku yang ditulis Hawking akan mengubah ruang kesadaran kita tentang waktu, diakuinya itu sengaja dibuat untuk pembaca non-spesialis yang tidak memiliki pengetahuan sebelumnya tentang fisika atau astronomi. 

Hawking disebut-sebut sebagai guru alam, secara humor yang baik hati mampu mengilustrasikan kerumitan fisika dengan analogi yang dipikirkan dengan matang.

Kita dipaku oleh waktu pada lokus di mana bumi dipijak. Kita meniti garis linier waktu dari bayi menjadi tua secara berbeda. Dengan demikian waktu kita adalah waktu kita. Ada 7,5 miliar penduduk bumi yang sama banyaknya dengan ilusi waktu yang tercipta. 

Waktu untuk seekor belalang sembah yang bertengger di dedaunan, atau waktu paus biru di kedalaman palung, adalah soal lain lagi. 

Tidak sama cara melihat waktu bagi orang yang terpaku di atas kursi kenangan dengan mereka yang berdiri di atas bahu raksasa untuk melihat jauh ke masa depan. Tidak pula sama waktu bagi seorang Zen, yang melihat detik ini adalah detik ini, tanpa kepahitan masa lalu dan kecemasan masa depan.

Para penjaga garis waktu, saban tahun berselisih tentang awal bulan suci. Dan para kawanan oligarki berencana melakukan muslihat guna memperpanjang waktu untuk menjilat kekuasaan. 

Sedangkan Negara telah rela membayar sejuta karung uang untuk mengongkosi kelucuan dan kegaduhan ritual demokrasi, demi menciptakan waktu bagi kekuasaan yang baru, sampai ujung waktu.

Kita telah diberi waktu, tapi kita adalah pengkhianat. Kita diberi waktu sekarang, tapi kita hampir tidak pernah tinggal di waktu sekarang. Pikiran kita dipenuhi data (masa lalu) dan prediksi (masa depan). 

Satu-satunya alasan yang tepat mengapa waktu harus ada bersama ruang adalah agar semuanya tidak terjadi sekaligus. Tapi pikiran kita telah menolak fungsi waktu dengan menghadirkan dunia secara serentak: dulu, sekarang, dan masa depan. 

Sebagai balasan setimpal bagi semua pengkhianat adalah penderitaan. Betapa banyak yang menderita sedih, trauma bahkan gila  karena masih tinggal di masa lalu, tidak sedikit yang cemas dan menggigil ketakutan karena ramalan fakta masa depan. 

Kita bisa terhindar dari derita batin, ketika kita mampu hidup di waktu sekarang. Hal ini tampak tidak adil bagi romantisme dan harapan, tapi dapat menjadi solusi bagi penderitaan. 

Derita bentuk lain adalah orang-orang yang merasa selalu kehabisan dan dikejar waktu. Padahal seperti kata Leonardo da Vinci, waktu akan berdiam cukup lama bagi orang-orang yang benar-benar menggunakannya. 


 

Editor: Abdul Aziz