Serba-Serbi 

Bukan Petani Sawit, tapi Pria ini Kena Imbas Anjloknya Harga TBS

Bukan Petani Sawit, tapi Pria ini Kena Imbas Anjloknya Harga TBS
Ilustrasi pupuk kimia non subsidi. Foto: Pupuk Indonesia

Pekanbaru, elaeis.co - Sudah dua minggu lebih harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di berbagai daerah sentra sawit anjlok. Di Riau, harga TBS petani swadaya bahkan turun hingga 80 persen dari sebelumnya. 

Ironisnya, di tengah situasi itu, harga pupuk kimia non subsidi malah makin mahal. Akibatnya, permintaan pupuk oleh petani sawit turun drastis.

Manrin, seorang sopir truk pupuk yang biasa mengantar pesanan ke berbagai kabupaten/kota di Riau menyebutkan, permintaan pupuk kimia semakin anjlok sejak dua minggu terakhir.

"Biasanya dalam satu minggu saya berangkat ke Dumai ambil pupuk bisa 2 atau 3 kali. Kalau sekarang, satu minggu kadang gak ada angkutan, satu bulan itu paling cuma 2 atau 3 kali saja," sebutnya. 

Dia mengatakan, turunnya harga sawit yang terjadi saat ini memang sangat berpengaruh pada permintaan pupuk. Karena menurutnya yang paling banyak menggunakan pupuk saat ini adalah petani kelapa sawit. 

"Harga sawit turunnya gak tanggung-tanggung, ada yang cuma dihargai Rp 700/kg. Sedangkan pupuk harganya sudah hampir Rp 1 juta per sak ukuran 50 kg. Ya jelas saja petani berpikir mau beli pupuk," ujarnya. 

Dia mengaku kasihan melihat nasib petani sawit. "Masalah mereka sekarang jadi dobel. Kalau dulu masalahnya cuma harga pupuk tinggi, sekarang ditambah lagi dengan harga sawit yang turun. Ya kena dua kalilah jadinya," katanya.

"Saya sendiri juga kena imbasnya. Sebab makin sepi angkutan," keluhnya.

Editor: Rizal