https://www.elaeis.co

CLOSE ADS
CLOSE ADS
Berita / Internasional /

Prabowo Buka Kartu di Jepang: Sawit Jadi Kunci Bebas Impor Solar 2026

Prabowo Buka Kartu di Jepang: Sawit Jadi Kunci Bebas Impor Solar 2026

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan arah baru kebijakan energi Indonesia Dalam Forum Bisnis Indonesia–Jepang di Tokyo.


Tokyo, elaeis.co – Di tengah dinamika global yang makin tak menentu, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan arah baru kebijakan energi Indonesia. 

Dalam Forum Bisnis Indonesia–Jepang di Tokyo, ia menegaskan bahwa sawit akan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapai target besar: menghentikan impor solar pada 2026.

Baca Juga: Indonesia Tancap Gas B50, Impor Solar Dipastikan Nol

Pesan itu disampaikan lugas, tapi sarat makna. Indonesia, kata Prabowo, tidak ingin terus bergantung pada energi fosil dari luar negeri. Di saat banyak negara sibuk mengamankan pasokan energi, Indonesia justru mulai membangun kemandirian dari dalam—dari kebun, dari tanah, dari sumber daya yang selama ini sudah dimiliki.

Salah satu langkah konkret yang tengah dipercepat adalah implementasi biodiesel B50, yaitu campuran bahan bakar solar dengan 50% biofuel berbasis minyak sawit. Program ini merupakan pengembangan dari B40 yang sudah berjalan, sekaligus menjadi fondasi untuk menekan impor energi secara signifikan.

“Dengan upaya-upaya ini, kita akan berada dalam posisi yang aman untuk menghadapi ketidakpastian global,” ujar Prabowo.

Targetnya jelas. Dengan penerapan B50 secara penuh, Indonesia diproyeksikan tidak lagi mengimpor solar. Saat ini, kebutuhan solar nasional masih berada di kisaran 4,9 juta kiloliter yang sebagian dipenuhi dari luar negeri. Angka ini yang coba ditekan hingga nol.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyebutkan bahwa konversi ke B50 akan berdampak langsung pada penghematan devisa negara. “Kalau B50 kita jalan penuh, impor solar bisa dihentikan. Devisa bisa kita tahan di dalam negeri,” katanya.

Data pemerintah menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, realisasi penyaluran biodiesel mencapai 14,2 juta kiloliter atau 105,2% dari target. Capaian ini berkontribusi pada penghematan devisa sebesar Rp130,21 triliun serta penurunan emisi karbon hingga 38,88 juta ton CO2 ekuivalen.

Tak hanya itu, hilirisasi sawit juga mendorong peningkatan nilai tambah ekonomi. Pengolahan Crude Palm Oil (CPO) menjadi biodiesel tercatat memberikan tambahan nilai hingga Rp20,43 triliun.

Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan strategi jangka panjang melalui pengembangan bioetanol berbasis jagung, tebu, dan ubi. Program ini diarahkan untuk mendukung bahan bakar campuran seperti E20, sekaligus memperluas pemanfaatan komoditas pertanian sebagai sumber energi.

Selain biofuel, Prabowo juga menyoroti potensi besar energi panas bumi yang dimiliki Indonesia. Dengan cadangan terbesar di dunia, sektor ini dinilai mampu menjadi tulang punggung energi bersih di masa depan.

Meski optimisme tinggi, pemerintah tetap berhati-hati. Uji coba B50 dijadwalkan selesai pada semester pertama 2026 sebelum implementasi penuh dilakukan pada semester kedua. Selain itu, proyek kilang RDMP di Balikpapan juga diharapkan memperkuat kapasitas produksi dalam negeri.

Langkah Indonesia ini mencerminkan strategi ganda: menjaga ketahanan energi sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih. Di tengah ketidakpastian global, arah kebijakan ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia tak hanya bertahan, tapi juga bersiap melangkah lebih jauh.

Jika semua berjalan sesuai rencana, maka 2026 bisa menjadi titik balik, saat Indonesia benar-benar lepas dari bayang-bayang impor solar, dan sawit menjelma menjadi energi masa depan.

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :