Berita / Sumatera /
Pengamat: Turunnya Harga TBS Tak Ada Urusan dengan Pemilu 2024
Hasil panen petani diangkut menuju pabrik sawit. foto: ist.
Bengkulu, elaeis.co - Belakangan ini santer terdengar kalau penurunan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Bengkulu terkait dengan pemilu 2024. Diduga ada yang mengumpulkan modal untuk agenda politik dengan mengorbankan petani sawit.
Namun Pengamat ekonomi di Bengkulu, Prof Dr Kamaludin, menepis dugaan itu. Menurutnya, penurunan harga TBS tak ada sangkut pautnya dengan pemilu.
"Tapi karena pasokan TBS yang masuk ke pabrik kelapa sawit (PKS) melimpah, lebih dari kebutuhan pabrik," katanya, Senin (8/5).
Menurutnya, usai lebaran, petani sawit seolah berebut menjual hasil panen mereka. "Panennya serentak, itu yang menurunkan harga TBS di pasaran," sebutnya.
"Bukan karena pemilu 2024. Ini murni karena masalah suplai TBS ke PKS," tambahnya.
Dia lantas menyorot peran pemerintah daerah dalam mengatasi masalah pasokan TBS kelapa sawit. Menurutnya, pemerintah daerah harus melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap PKS untuk mencegah terjadinya over produksi dan memastikan ketersediaan TBS kelapa sawit yang seimbang dengan kebutuhan pabrik.
"Pemerintah daerah perlu menjaga agar tidak terjadi persaingan yang tidak sehat di antara petani. Selain itu, pemerintah daerah juga harus memperkuat koordinasi dengan petani dan pihak terkait untuk mengoptimalkan produksi TBS kelapa sawit di Bengkulu," ujarnya.
Sementara itu, beberapa petani di Bengkulu mengaku khawatir penurunan harga TBS kelapa sawit akan berkepanjangan. Pemerintah daerah diharapkan bisa membantu menstabilkan harga TBS di pasaran.
"Beban petani makin berat kalau harga TBS terus anjlok. Kami berharap pemerintah memberikan bantuan atau insentif kepada petani untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas TBS kelapa sawit," kata Iskandar Maun, petani sawit di Bengkulu Tengah.







Komentar Via Facebook :