Berita / Bisnis /
Mandat Biodiesel Jadi Bahan Bakar Reli Sawit 2026
Jakarta, elaeis.co – Kenaikan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) diperkirakan masih berlanjut seiring kombinasi faktor geopolitik, lonjakan harga energi, hingga kebijakan mandatori biodiesel yang semakin agresif di berbagai negara.
Laporan terbaru dari RHB Investment Bank Bhd mencatat harga CPO telah melonjak sekitar 19 persen sejak konflik di Asia Barat memanas. Secara year-to-date, harga rata-rata tercatat mencapai RM4.188 per ton.
Kenaikan tersebut tidak lepas dari lonjakan harga minyak mentah global yang naik hingga 46 persen dalam periode yang sama. Kondisi ini memperkuat keterkaitan antara CPO dan sektor energi, terutama dalam konteks pengembangan biodiesel.
“Dampak paling signifikan kemungkinan berasal dari peningkatan mandat biodiesel di Indonesia dan secara global,” tulis manajemen RHB dalam laporannya.
Mandatori biodiesel kini menjadi faktor kunci yang mendorong permintaan CPO. Ketika harga energi fosil meningkat, banyak negara beralih ke bahan bakar alternatif berbasis minyak nabati, termasuk biodiesel dari sawit.
Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia telah lebih dulu menjalankan program mandatori biodiesel.
Kebijakan ini terbukti menyerap produksi domestik sekaligus menjaga stabilitas harga di tengah volatilitas global.
Tidak hanya Indonesia, Malaysia juga mulai mengkaji peningkatan campuran biodiesel. Saat ini, negara tersebut masih menerapkan mandat B10 yang menyerap sekitar 1,3 hingga 1,4 juta ton CPO per tahun.
Jika mandat B20 diterapkan, kebutuhan CPO diperkirakan akan meningkat hingga dua kali lipat. Hal ini berpotensi menjadi katalis tambahan bagi penguatan harga di pasar global.
“Implementasi B20 bisa meningkatkan konsumsi secara signifikan dan menjadi penopang harga CPO ke depan,” tulis laporan tersebut.
Selain meningkatkan permintaan, biodiesel juga dinilai semakin kompetitif dibanding bahan bakar fosil. RHB mencatat bahwa harga biodiesel B20 berpotensi lebih murah sekitar 20 sen per liter dibanding harga pasar saat ini.
Kondisi ini memperbesar peluang adopsi biodiesel secara lebih luas, terutama di tengah upaya global untuk menekan emisi karbon dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Kombinasi antara faktor ekonomi dan dorongan kebijakan membuat biodiesel tidak hanya menjadi alternatif, tetapi juga bagian penting dari strategi energi nasional di berbagai negara.
Di sisi lain, konflik geopolitik tetap menjadi faktor eksternal yang memperkuat tren kenaikan harga CPO. Gangguan rantai pasok energi global mendorong harga minyak mentah naik, yang pada akhirnya berdampak pada meningkatnya permintaan minyak nabati.
Efek berantai ini membuat CPO semakin dipandang sebagai komoditas strategis, bukan hanya untuk pangan, tetapi juga sebagai sumber energi alternatif.
Dengan kombinasi antara kebijakan biodiesel, harga energi tinggi, dan ketatnya pasokan, prospek harga CPO dinilai masih solid dalam jangka pendek hingga menengah.
Meski demikian, pelaku pasar tetap mewaspadai potensi normalisasi harga seiring membaiknya pasokan global. Faktor seperti peningkatan produksi dan stabilisasi rantai pasok dapat menjadi penahan laju kenaikan harga di masa mendatang.
Namun untuk saat ini, mandat biodiesel menjadi bahan bakar utama yang mendorong reli harga sawit di pasar global.
“Selama kebijakan biodiesel terus diperkuat dan harga energi tetap tinggi, permintaan CPO akan tetap kuat,” tulis RHB.









Komentar Via Facebook :