https://www.elaeis.co

Berita / Pojok /

Donat Sawit

Donat Sawit

Gambar ekonomi donat yang dikembangkan oleh ekonom Universitas Oxford, Kate Raworth. Foto: Ist


Ini bukan sekadar urusan menggoreng donat pakai minyak goreng sawit yang memang dipercaya membikin rasa donatnya jadi lebih enak. Tapi juga soal konsep baru yang sedang popular di belahan dunia, tentang �ekonomi donat� (The Doughnut Economy).

Pemikiran "Ekonomi Donat" ini digambarkan sederhana seperti pada gambar (bulatan hijau) yang ada. Gambar itu dikembangkan oleh ekonom Universitas Oxford, Kate Raworth, 8 tahun lalu pada sebuah makalah berjudul A Safe and Just Space for Humanity, dan kemudian dielaborasi pada tahun 2017 dalam buku Doughnut Economics: Seven Ways to Think Like a 21st-Century Economist.

Sama seperti gambarnya yang sederhana, idenya juga sederhana, bahwa manusia dan masyarakat membutuhkan kegiatan ekonomi yang juga terkait dengan kehidupan sosialnya. 

Jumlah dan nilai kegiatan sosial ekonomi itu --- seperti ketersediaan air bersih, pangan, energi, layanan kesehatan, pendidikan, pendapatan, kerja, dan sebagainya --- ada batas minimum nya. 

Artinya, jika kegiatan sosial ekonomi itu lebih rendah dari minimum (shortfall) maka kehidupan manusia dan masyarakat menjadi tidak sejahtera.

Di sisi lain, kalau ekonomi terus-terusan �digenjot� dan pertumbuhannya dikejar sebagai tujuan utama, maka hampir pasti akan mengeksploitasi alam dan lingkungan secara berlebihan, dan batas daya dukung ekologi akan dilanggar (overshoot)

Akibatnya, kesejahteraan manusia akan menurun akibat perubahan iklim, polusi air laut, polusi bahan kimia, kehilangan biodiversitas, atau berkurangnya ketersediaan air bersih.

Tesis Raworth adalah bahwa ada yang disebut sebagai �a safe and just space for humanity�, manusia bisa hidup nyaman, terhindar dari kekurangan dalam memenuhi kebutuhan minimumnya tapi tidak sampai melewati batas daya dukung ekologi dari planet bumi yang memang nyata ada. 

Ekonomi menjadi bersifat �regeneratif� dan manfaatnya bisa di�redistributive�.  Inilah yang disebut; �kesejahteraan�.

Raworth dan kawan-kawannya pun mencoba menerapkan konsep �donat' ekonomi itu untuk memotret kondisi sosial ekonomi dunia. Hasilnya ada pada gambar di sebelah kanan (merah), gambar itu sudah ditampilkan di World Economic Forum (WEF) April 2017. 

Raworth mengatakan bahwa dunia ini masih kurang (shortfall) untuk semua landasan sosial yang diperlukan untuk bisa menjadi sejahtera, mulai dari penyediaan air bersih dan pangan, hingga kedamaian dan keadilan atau kesempatan berpendapat dalam politik. 

Disisi lain, dunia sudah berlebihan (overshoot) dalam beberapa hal seperti perubahan iklim, kehilangan biodiversitas, dan konversi lahan.

Pemikiran ekonomi donat ini nampaknya menarik perhatian dunia. Ini kelihatan dari beberapa negara yang mulai merencanakan menerapkan pemikiran itu, setidaknya sebagai panduan untuk mendapatkan keseimbangan antara pertumbuhan dan peningkatan ekonomi dengan keberlanjutan dan kelestarian alam. 

Kota Amsterdam sudah memulai, bahkan seluruh negara Belanda juga sudah memikirkan konsep baru ini. 

Di sisi lain, semakin banyak penelitian dilakukan dengan kerangka pemikiran tadi, seperti yang dilakukan peneliti-peneliti Finlandia, Luukkanen et.al. (2021) untuk ekonomi Thailand.

Mungkin akan menarik juga jika kajian serupa dilakukan pada sawit Indonesia atau sektor dan bidang ekonomi lainnya lah, seperti Food Estate, atau ekonomi di daerah tertentu. 

Konsep ekonomi donat sedang mengemuka dan nampaknya banyak �diterima� termasuk keberterimaan negara-negara bahwa permasalahan �shortfall� dan 'overshoot' itu terjadi di semua negara dan ekonomi. 

Dalam kasus sawit, ini membuka peluang untuk bisa melihat �sosial ekonomi sawit� dalam pandangan yang benar, bahwa sawit memang memberi manfaat dan membawa kesejahteraan --- seperti pengakuan Bank Dunia bahwa sawit telah berkontribusi pada pengurangan kemiskinan Indonesia --- meski juga mungkin masih terjadi masalah-masalah tertentu. 

Membahas 'sosial ekonomi sawit' dengan kerangka ekonomi donat akan menjembatani komunikasi dan pemikiran secara lebih objektif meski tentu banyak hal yang memerlukan penyesuaian agar ekonomi donat itu menjadi kontekstual dengan kondisi sawit Indonesia.

Misalnya bagaimana memadukan kerangka pemikiran ekonomi donat dengan Sustainable Development Goals (SDGs), atau membahas ekonomi donat itu untuk seluruh kegiatan ekonomi minyak nabati (vegetables oil) dan membandingkan minyak sawit dengan minyak kedele atau minyak nabati lainnya.

Indonesia adalah negara besar dan dalam beberapa hal sudah diakui sebagai negara yang maju dan unggul. Salah satunya dalam hal sawit, dengan fakta bahwa industri sawit kita memang yang terbesar dan termaju di dunia.

Kita tidak ragu untuk siap terlibat dalam berbagai pemikiran dan praktek termutakhir di dunia, dengan membawa perspektif yang objektif dari sisi kepentingan kita sebagai negara (sawit) yang besar dengan keyakinan bahwa itu adalah juga untuk kepentingan dunia, termasuk dengan menggunakan pemikiran ekonomi donat. Semoga�


Bayu Krisnamurthi 

Mantan Wakil Menteri Perdagangan Kabinet Indonesia Bersatu II.


BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :

Berita Terkait :