https://www.elaeis.co

CLOSE ADS
CLOSE ADS
Berita / Bisnis /

Diam-Diam Mendunia! Biomassa Sawit Indonesia Kuasai Jepang, Potensi Listrik 38.760 MW Terungkap

Diam-Diam Mendunia! Biomassa Sawit Indonesia Kuasai Jepang, Potensi Listrik 38.760 MW Terungkap

Ilustrasi - petani kelapa sawit di Indonesia.


Jakarta, elaeis.co – Biomassa sawit Indonesia perlahan menancapkan jejak kuat di pasar Jepang. Tanpa banyak sorotan, komoditas ini kini menjelma menjadi salah satu andalan energi terbarukan yang diminati negeri Sakura.

Produk unggulan seperti Palm Kernel Shell (PKS) atau cangkang sawit tercatat telah menembus volume ekspor lebih dari 5 juta ton per tahun. Angka itu bukan sekadar statistik, ia seperti denyut nadi baru dalam hubungan dagang Indonesia dan Jepang, khususnya di sektor energi bersih.

Baca Juga: Prabowo Buka Kartu di Jepang: Sawit Jadi Kunci Bebas Impor Solar 2026

Tak berhenti di situ, Indonesia mulai mengembangkan produk biomassa lain yang tak kalah potensial, yakni Empty Fruit Bunch (EFB). Limbah tandan kosong sawit ini kini diolah menjadi pelet energi, membuka jalan baru untuk memperluas pasar energi terbarukan di Jepang.

Langkah ekspansi tersebut diperkuat lewat partisipasi Indonesia dalam ajang International Biomass Expo 2026 yang digelar di Tokyo Big Sight pada 17–19 Maret 2026. Pameran ini menjadi panggung penting bagi pelaku industri untuk menunjukkan kekuatan biomassa sawit Indonesia di hadapan pasar global.

Ketua APCASI, Dikki Akhmar, mengatakan bahwa PKS Indonesia telah memiliki pasar yang stabil di Jepang dalam tiga tahun terakhir. Ia menegaskan, ke depan pengembangan EFB pellet akan menjadi fokus utama.

“PKS sudah punya pasar kuat. Sekarang kita dorong EFB pellet sebagai energi alternatif dengan potensi besar,” ujarnya.

Di balik ekspor yang terus mengalir, tersimpan potensi raksasa yang belum sepenuhnya tergarap. 

Biomassa sawit Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 232 juta metrik ton per tahun. Jika dimanfaatkan optimal, potensi ini setara dengan kapasitas pembangkit listrik hingga 38.760 megawatt (MW).

Angka tersebut seolah menjadi “harta karun energi” yang selama ini tersembunyi di balik limbah perkebunan.

Dari sisi diplomasi ekonomi, Wakil Duta Besar RI untuk Jepang, Maria Renata Hutagalung, menilai ekspor biomassa memberikan kontribusi positif terhadap neraca perdagangan kedua negara. Ia memastikan dukungan terus mengalir untuk memperluas akses pasar Indonesia di Jepang.

“KBRI Tokyo akan terus mendukung promosi dan ekspansi pasar biomassa sawit Indonesia,” katanya.

Dukungan serupa datang dari Badan Pengelola Dana Perkebunan. Melalui berbagai program, lembaga ini tidak hanya mendorong promosi, tetapi juga membiayai riset untuk meningkatkan nilai tambah produk turunan sawit, termasuk biomassa.

Direktur BPDP, Lupi Hartono, menyebut riset menjadi kunci agar produk Indonesia tidak hanya laku, tetapi juga unggul dalam kualitas dan daya saing.

Sementara itu, dari sisi standar mutu, PT Sucofindo menjalin kerja sama dengan Japan Quality Assurance. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat kredibilitas biomassa Indonesia di pasar Jepang yang dikenal ketat dalam standar kualitas.

Pemerintah pun melihat biomassa sawit sebagai komoditas strategis masa depan. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, menegaskan komitmen untuk terus membuka akses pasar internasional.

Menurutnya, meningkatnya permintaan global terhadap energi terbarukan menjadi peluang emas bagi Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai pemasok energi alternatif yang berkelanjutan.

Kini, di tengah pergeseran dunia menuju energi bersih, biomassa sawit Indonesia tak lagi sekadar limbah. Ia berubah menjadi komoditas bernilai tinggi, mengalir dari kebun-kebun tropis hingga pembangkit listrik di Jepang.

Dan seperti arus yang diam tapi menghanyutkan, biomassa sawit Indonesia perlahan tapi pasti sedang menguasai panggung energi global.

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :