https://www.elaeis.co

Berita / Nasional /

Devisa dari Sawit, Kakao, dan Kelapa Terancam Hilang, ini Biang Keroknya

Devisa dari Sawit, Kakao, dan Kelapa Terancam Hilang, ini Biang Keroknya

Haris Darmawan. foto: ist.


Jakarta, elaeis.co – Tiga komoditas unggulan perkebunan Indonesia, yakni sawit, kakao, dan kelapa, yang selama ini jadi tulang punggung devisa negara, tengah menghadapi ancaman serius.

Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan Ditjenbun Kementerian Pertanian (Kementan), Haris Darmawan, mengungkapkan deretan masalah yang bisa mengguncang stabilitas agribisnis nasional jika tak segera ditangani.

Dalam pidatonya saat membuka Evaluasi Tahunan Ilmiah Kinerja Agribisnis dan Perkebunan (ETIKAP) ke-6 di Jakarta, Rabu (11/6), Haris menyebutkan bahwa ketiga komoditas tersebut berkontribusi besar terhadap ekspor dan pertumbuhan ekonomi. Namun, di balik kejayaan itu, ada tantangan laten yang mulai menggerogoti pondasinya.

“Sawit, kakao, dan kelapa telah jadi penopang utama. Tapi stagnasi lahan, produktivitas rendah, dan ketimpangan pasokan membuat masa depannya rawan,” ujar Haris.

Data menunjukkan, luas lahan sawit nasional stagnan di angka 16,83 juta hektare sejak 2021. Padahal, produktivitasnya masih jauh dari potensi maksimal, baru 3,8 ton per hektare dari potensi 5 ton. Tak hanya itu, sekitar 3 juta hektare lahan sawit juga tumpang tindih dengan kawasan hutan, yang kini jadi fokus Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH).

Kelapa pun menghadapi dilema, di mana melejitnya ekspor kelapa bulat ke China, hingga 431.915 ton tahun ini memicu kelangkaan bahan baku domestik. Petani sempat menikmati harga hingga Rp15.000 per butir, namun kini harga mulai kembali turun. 

Untuk mengantisipasi dampaknya, pemerintah menargetkan pengembangan 500 ribu hektare kebun kelapa serta pembangunan industri hilir yang lebih bernilai, seperti santan dan tepung kelapa.

Nasib kakao tak kalah pilu. Indonesia yang dulu jaya sebagai produsen kakao dunia kini tergelincir. Tanaman tua, minim peremajaan, serta pasokan biji lokal yang terus menipis memaksa pabrik kakao dalam negeri bergantung pada impor.

“Ironis, kita negara penghasil tapi malah harus mengimpor. Ini jadi sinyal peringatan,” kata Haris.

Menghadapi berbagai persoalan ini, dia menekankan pentingnya hilirisasi, inovasi teknologi, peremajaan tanaman, serta sertifikasi berkelanjutan seperti ISPO sebagai kunci memperkuat daya saing. Jika tak segera ditangani, ledakan devisa yang selama ini dibanggakan perlahan akan menguap.


 

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :