https://www.elaeis.co

CLOSE ADS
CLOSE ADS
Berita / Nasional /

B50 Belum Jalan, Harga Sawit Sudah Goyang, DPR Wanti-Wanti Risiko Besar

B50 Belum Jalan, Harga Sawit Sudah Goyang, DPR Wanti-Wanti Risiko Besar

Anggota Komisi XII DPR RI, Ratna Juwita Sari.


Jakarta, elaeis.co – Rencana implementasi biodiesel B50 belum juga berjalan, namun gejolak harga sawit di dalam negeri sudah mulai terasa. DPR pun mengingatkan pemerintah agar tidak membiarkan kondisi ini berlarut-larut karena berisiko langsung menghantam petani.

Anggota Komisi XII DPR RI, Ratna Juwita Sari, mendorong pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga sawit, khususnya di tingkat petani.

Ia menyoroti adanya penurunan harga tandan buah segar (TBS) di sejumlah daerah, termasuk Kalimantan Barat, yang dinilai menjadi sinyal awal ketidakstabilan pasar.

“Jangan sampai negara mendorong penyerapan sawit untuk energi, tapi petani justru dirugikan karena harga tidak stabil,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (7/4).

Menurutnya, situasi ini berpotensi menciptakan paradoks dalam kebijakan energi nasional. Di satu sisi, pemerintah ingin meningkatkan penggunaan sawit melalui program biodiesel. Namun di sisi lain, harga di tingkat petani justru tidak terjaga.

Ratna menilai stabilitas harga menjadi kunci agar kebijakan seperti B50 bisa berjalan efektif tanpa menimbulkan dampak negatif bagi pelaku di hulu.

Di tengah rencana tersebut, kesiapan industri juga menjadi sorotan. Ia menekankan pentingnya percepatan pembangunan fasilitas pendukung, terutama pabrik metanol, agar tidak menjadi hambatan saat kebijakan diterapkan.

“Kalau kebijakan sudah jalan tapi industrinya belum siap, itu akan menimbulkan masalah baru,” katanya.

Selain itu, DPR juga mendorong pemerintah menyiapkan peta jalan (roadmap) yang jelas, termasuk insentif bagi pelaku industri dan edukasi kepada masyarakat terkait penggunaan biodiesel.

Sementara itu, implementasi B50 sendiri dipastikan belum akan berjalan dalam waktu dekat. Pemerintah memutuskan untuk tetap menjalankan program B40 pada 2026 sambil melanjutkan kajian dan uji coba.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, sebelumnya menyatakan bahwa keputusan penerapan B50 masih bergantung pada dinamika harga antara minyak mentah dan minyak sawit.

Dengan kondisi tersebut, arah kebijakan energi berbasis sawit masih berada dalam fase penyesuaian. Namun di lapangan, tekanan sudah mulai terasa lebih dulu.

Ketika kebijakan belum benar-benar berjalan, pasar justru bergerak lebih cepat. Dan jika tidak diantisipasi, yang paling dulu terdampak bukan industri besar melainkan petani di ujung rantai.

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :